Perempuan itu bernama Artalyta Suryani. Nama mulai banyak dibicarakan orang setelah ditangkap KPK bersama jaksa Urip Tri Gunawan 2 Maret 2008 lalu. Ayin, begitu nama Artalyta waktu kecil, diduga memberikan suap Rp 6 miliar kepada Urip yang menjadi Ketua Jaksa BLBI agar menghentikan penyelidikan kasus BLBI.
Ayin adalah orang dekat Sjamsul Nursalim, yang menjadi pengutang kakap BLBI. Ia bertetangga dengan Sjamsul di Lampung. Kedekatan perempuan kelahiran Teluk Betung, Lampung Selatan ini dengan Sjamsul bermula dari pernikahannya dengan Surya Darma.
Surya Darma yang nama aslinya adalah Akiong merupakan bos dari PT Gajah Tunggal yang merupakan salah satu perusahaan yang dimiliki oleh Sjamsul. Setelah suaminya meninggal, kedekatan Ayin dengan Sjamsul tidak lantas hilang, bahkan ia mendapat kepercayaan lebih besar.
Sjamsul mempercayai Ayin untuk mengelola tambak udang yang di bawah bisnis PT Sipasena Citra Darmaja. Perusahaan ini merupakan salah satu dari tiga perusahaan yang diserahkan Sjamsul sebagai bagian dari Penyelesaian Kewajiban Pemegang Saham (PKPS) Bank Dagang Nasional Indonesia (BDNI) sebesar Rp 28,4 triliun.
Saat diserahkan, tambak udang ini dinilai konsultan sebesar Rp 19 triliun. Namun, setelah terjadi konflik antara petambak (plasma) dengan Sjamsul (inti), operasi tambak ini berhenti dan nilainya merosot drastis.
Saking percayanya pada Ayin, setelah tinggal di Singapura, Sjamsul juga meminta perempuan itu agar mengurus rumahnya di Jalan Hang Lekir, Kebayoran. Maka tidak aneh, bila datang ke Jakarta, Ayin sering menginap di rumah Sjamsul. Dan di rumah inilah Ayin ditangkap KPK setelah melakukan pertemuan dengan jaksa Urip.
Menjadi orang kepercayaan Sjamsul, Ayin lantas menjadi sosialita yang berteman akrab dengan sejumlah pengusaha, politisi dan pejabat di negeri ini. Mantan Menteri Keuangan Fuad Bawazier mengenali Ayin sebagai juru lobi antara Sjamsul dengan para pejabat teras negeri ini.
Pria kelahiran Tegal Jawa Tengah ini menerangkan Ayin memang sangat dekat dengan pejabat teras dan penegak hukum di negeri ini. " Saya rasa itu sudah bukan rahasia lagi kalau Arthalita merupakan juru lobby yang mengerti kemauan dari para pejabat teras di negeri ini," kata Fuad kepada detikcom.
Untuk memperlancar lobinya, Ayin tidak segan menjadikan para pejabat atau mantan pejabat sebagai bos salah satu perusahaan Sjamsul. Wismoyo Arismunandar misalnya pernah menjadi komisaris Utama di perusahaan Tambak Udang Dipasena.
Melihat pergaulan Ayin, tidak mengherankan bila pesta pernikahan putra sulungnya bertaburan para pejabat. Disebut-sebut Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), mantan Presiden Gus Dur, Kapolri Jenderal Soetanto hadir dalam pesta tersebut.
Kini ketika Ayin sudah meringkuk di bui, tidak sedikit orang penting yang tetap bersimpati padanya. Ketua Kadinda Provinsi Lampung, Alzier Dianis Thabranie, misalnya. Ia menyebut Ayin memiliki banyak kontribusi terhadap perkembangan Lampung.
"Jangan pas ia kesulitan maka hal-hal negatifnya saja yang dilihat. Terlepas dari kasus yang menimpanya, ia juga berperan dalam memajukan Lampung dengan mendirikan perusahaan-perusahaan di Lampung," kata Alzier kepada detikcom.
Orang kepercayaan konglomerat Sjamsul Nursalim itu memang pengusaha sukses di Lampung. Perempuan yang menjanda itu memiliki sejumlah perusahaan di Lampung, seperti sebuah pulau lengkap dengan cottage (Pulau Lelangga Kecil) di Lampung Selatan, karaoke Millenium di Bukit Camang, perumahan real estate Bukit Alam Surya, dan berbagai usaha lainnya.
Bahkan mantan Presiden Gus Dur pun tanpa ragu mengakui kedekatannya dengan Ayin. Gus Dur menyatakan, perempuan itu pernah ditawari untuk menjadi pengurus DPP PKB, tetapi tawaran tersebut tidak mendapat jawaban dari yang bersangkutan. "Pernah kami tawari tetapi enggak ada jawaban. Soalnya dia itu pengurus Golkar," ungkap Gus Dur.
Menurut Gus Dur, Ayin tidak mau jadi bendahara PKB karena masih berat di Golkar. Karena itu Gus Dur menegaskan yang bersangkutan bukan kader PKB.
Gus Dur pun berencana akan mengunjungi Arthalyta yang saat ini berada di Rutan Perempuan, Pondok Bambu, Jakarta Timur. "Sebagai teman saya akan kunjungi dia," kata mantan Presiden RI keempat itu.
Entahlah apa yang ada di pikiran Ayin kini. Barangkali karena banyak pihak tetap bersimpati padanya, ia mulai berani bersuara. Barangkali pula, ia berani bersuara justru karena ketakutan dan mendapat tekanan para pejabat yang pernah akrab dengannya.
"Saya harap pemeriksaan saya ini tidak dikait-kaitkan dengan siapa pun," kata Ayin mengakhiri puasa bicaranya.
Apapun yang dipikirkan dan menjadi tekanan pada Ayin, kasus suap jaksa BLBI ini harus diusut tuntas. Jangan biarkan hukum mati karena tersangkanya akrab dengan para petinggi negeri ini! (ron/iy)











































