Setidaknya, itulah hasil riset yang dilakukan sekelompok peneliti dari University of Western Australia dan Archives of General Psychiatry.
Demikian dilansir dari BBC, Jumat (7/3/2008). Sebanyak 3.987 pria berusia di atas 70 diteliti. Masing-masing dari mereka diambil sampel darahnya. Selanjutnya kadar testosteron mereka diuji dan diteliti apakah mereka mengalami depresi.
203 Pria yang diteliti dikategorikan mengalami depresi. Mereka dipastikan memiliki kadar testosteron yang lebih rendah dari yang lain, maupun tak memiliki testosteron yang tak terikat protein.
Peneliti juga menemukan pria yang memiliki kadar testosteron dibawah 20 persen, akan mengalami depresi tiga kali lebih sering daripada mereka yang memiliki kadar testosteron di atas 20 persen.
Tingkat testosteron pria memang akan menurun seiring waktu. Namun penurunan itu tak selalu sama. Faktor-faktor lainnya pun bisa berpengaruh. Diset itu juga menunjukkan bahwa upaya meningkatkan testosteron bisa menjadi cara efektif untuk mengatasi depresi. (fiq/asy)











































