"Saya tidak punya tendensi untuk membuat buku yang lain. Tapi saya kaget sekali ternyata buku saya sekarang ini terkenal di dunia, karena di blow up oleh seorang jurnalis dari Australia. Meski pertama kali saya sempat takut dan was-was," kata Siti dalam acara Temu Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM) di Bulaksumur Yogyakarta, Rabu (5/3/2008).
Menurut dia, dirinya tidak punya tendensi dalam menulis buku yang berasal dari catatan hariannya. Penulisan buku itu semata-mata untuk menunjukkan sikapnya sebagai bangsa Indonesia. Dia juga tidak mau dijajah dengan alasan apapun juga.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Upaya yang dilakukan dengan WHO berkaitan dengan virus flu burung itu, kata Siti, banyak mendapat dukungan dari berbagai negara dunia ketiga. Sebanyak 70 persen dari 193 negara anggota WHO mendukung upaya Indonesia tersebut.
Dia mengingatkan, agar para peneliti masalah kesehatan di Indonesia tidak serta merta tergiur oleh janji-janji negara maju yang menawari penelitian bersama serta melanjutkan studi S2 atau S3 di luar negeri. Saat melakukan penelitian sampelnya dibawa, namun tidak boleh dibawa pulang kembali.
"Sudah dibawa sampelnya tapi angelnya (sulit) setengah mati. Ibarat sudah dicolong sampel kita, tapi kok masih berterima kasih sama mereka," sindir Siti.
Siti menginginkan agar mental-mental para peneliti Indonesia itu kuat. Sebab, lanjut dia, bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar, bangsa yang kaya.
"Kita harus bisa duduk sama rendah, berdiri sama tinggi. Kita bukan bangsa tempe lagi," pungkas Siti yang juga alumnus FK UGM itu.
(bgs/ptr)











































