Menkes Prihatin KB di Daerah Masuk Dinas Pemakaman

Menkes Prihatin KB di Daerah Masuk Dinas Pemakaman

- detikNews
Rabu, 05 Mar 2008 22:39 WIB
Yogyakarta - Menteri Kesehatan (Menkes) Siti Fadilah Supari mengaku prihatin program Keluarga Berencana (KB) di daerah-daerah tersendat. Kantor-kantor Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) di daerah banyak digabung ke Dinas Sosial, bahkan masuk ke dinas/urusan pemakaman.

Hal itu disampaikan Siti dalam acara Sarasehan dan Temu Alumni Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Gadjah Mada yang diselenggarakan oleh BKKBN di Auditorium FK UGM di  Bulaksumur, Yogyakarta, Rabu (5/3/2008).

"Sebetulnya masalah kesehatan dan KB itu terletak pada sistem desentralisasi. Banyak program-program KB yang tersendat, BKKBN di daerah kadang ditempelkan ke dinas sosial, kadang-kadang di dinas pemakaman. Kalau seperti itu matilah," kata dia.

Meski tersendat kata Siti, angka ada kematian ibu saat melahirkan bayi sekarang ini justru turun drastis. Penanganan ibu bayi yang akan melahirkan saat ini juga sudah tidak menggunakan metode save mother first.
Namun lebih mengacu pada pola P4K (Pembinaan Peningkatan Pendapatan Petani Nelayan Kecil) sebagai upaya peningkatan sumber daya manusia (SDM).

"Dengan pola P4K, mereka mengamati ibu hamil dari dekat dan kemudian mempersiapkan semuanya. Kalau dia lahir ditemani siapa, kalau butuh darahnya siapa, kalau butuh mobil apa pakai mobil siapa, dan kalau butuh biaya siapa yang membayari. Pola seperti itu ternyata berjalan lebih baik," ujarnya.

Menurut dia, pola itu sudah siap dilakukan semua oleh bidan desa. Sedang untuk dukun bayi tidak dilakukan. Bila masih ada dukun bayi, sekarang dibujuk agar mereka memberikan pada bidan bila ada bayi yang mau lahir.

Dia menuturkan, pergeseran peranan dari dukun bayi ke bidan desa sangat luar biasa. Banyak desa yang dulu angka kematian ibu tinggi, sekarang sudah nol.

Seperti di Wonogiri angka kematian ibu melahirkan sudah nol karena sistem sudah baik. Kalau dulu dukun itu dilatih, kemudian bidan diberi penyuluhan ternyata tidak efektif.

"Kita tidak lagi menurut WHO, kalau save mother itu dari WHO. Mereka melakukan pelatihan, penyuluhan yang banyak sekali tapi ketika sampai di daerah tidak berjalan," tuturnya.

Pola tersebut merupakan cara yang paling praktis dengan hasil yang luar biasa yang dibarengi Askeskin.

"Program itu ternyata sangat menolong orang miskin dan kami berharap KB bisa hidup kembali seperti zaman dulu," demikian Siti.
(bgs/ptr)


Berita Terkait