Tali plastik sepanjang 30-an meter dan palang besi yang dipasang SKK UGM kawasan sebelah timur Fakultas Filsafat sebagai tanda larangan, tak dihiraukan. PKL malah ganti memasang tulisan yang digantung di tali plastik berbunyi, 'Warning, SKK Dilarang Mengusik PKL'.
Sejak pukul 09.00 WIB, sebelum para PKL berdagang sekitar 20-an anggota SKK UGM sudah berjaga-jaga di lokasi. Saat PKL datang, mereka langsung melarang dan meminta pindah lokasi. Namun para PKL tetap cuek berdagang di tempat itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Demikian pula dengan pedagang siomay dan tempura. Mereka asik menyiapkan penggorengan ketika Kepala SKK UGM R. Deda Suwandi meminta pindah. Mereka melakukan aksi tutup mulut sambil tetap menggoreng dan menyiapkan dagangannya.
"Kami tidak melarang anda berjualan. Kami hanya meminta pindah dari kawasan ini. Di sini bukan tempat jualan seperti di kawasan lain di UGM," kata Deda sambil meminta anak buahnya mengencangkan tali plastik dan pagar besi yang dipasang.
Pedagang Tempura yang ditegur oleh Deda, tetap cuek. Dia terus menggoreng beberapa buah tempura di atas gerobaknya. Sedang beberapa orang PKL lainnya memilih bergabung dengan anggota Aliansi Mahasiswa UGM Peduli PKL yang berdemo di dekat mereka berdagang.
"Kami tetap berdagang di sini sampai rektor memberikan jaminan mengenai adanya relokasi. Selama ini pihak rektorat tak pernah memberikan jawaban pasti mengenai tempat relokasi yang pasti untuk PKL," kata Prasetyo salah seorangg anggota aksi yang mengadvokasi PKL UGM.
Negosiasi antara perwakilan PKL, mahasiswa dan Kepala SKK UGM berjalan alot. PKL tetap meminta dipertemukan dengan pihak rektorat untuk membahas masalah relokasi. Karena menemui jalan buntu, akhirnya PKL di kawasan Lembah tetap berjualan ditempat itu. Anggota SKK UGm hanya berjaga-jaga di sekitar tempat itu tanpa melakukan pengusiran lagi. (bgs/djo)











































