"Itu baru 50 persennya yang sudah diidentifikasi," ujar Direktur Tata Negara Ditjen Administrasi Hukum Umum (AHU) Depkum HAM Aidir Amin Daud ketika meninjau tempat verifikasi parpol di Puncak, Bogor, Selasa (3/3/2008).
Sementara di ruangan lain berukuran 10x15 meter, tampak pemandangan mirip, yakni puluhan kontainer plastik dan peti kayu yang diletakkan teratur menempel di dinding. Beberapa lemari besi setinggi 150 centimeter berlaci susun seperti perlengkapan kantor. Puluhan kontainer, peti kayu dan lemari besi itu pun memenuhi pinggiran ruangan.
Di tengah ruangan terdapat meja-kursi disusun segi empat, tempat sekitar 30-an verifikator memeriksa berkas parpol. Kertas-kertas yang dijilid dan disusun dalam file cabinet memenuhi meja-meja itu. Para verifikator yang duduk di kursi depan meja bertaplak hijau dan salem itu terlihat serius memelototi berkas yang banyak itu.
"Ini lho yang pegel (sambil menunjuk punggung), sama mata," ujar salah satu verifikator, Nurjanah.
Nurjanah mengaku berada di Puncak sejak tanggal 28 Februari 2008 pagi hingga tanggal 4 Maret 2008 ini. Jam kerjanya tiap hari, pagi pukul 08.00-12.00 WIB, siang pukul 13.00-17.00 WIB, pukul 20.00-23.00 WIB.
"Istirahat cuma ishoma (istirahat sholat makan). Kalau bosen ya ngobrol, bercanda aja sama teman-teman," ujar wanita berambut cepak ini.
Di sela-sela padatnya memverifikasi parpol, dia dan rekannya menyempatkan diri untuk pulang ke rumah di Jakarta. "Ya ambil baju ganti," ujar Nurjanah.
Sementara rekannya Nurjaman mengaku mematikan telepon selulernya seharian ketika bekerja. "Takut ditelepon-telepon parpol. Dinyalakan lagi kalau malam, untuk telepon keluarga," ujar dia.
Sementara Aidir mengatakan verifikasi memang sengaja dilakukan di vila di Puncak, Bogor, karena berhawa sejuk dan jauh dari Jakarta. "Agar jauh dari gangguan macam-macam termasuk dari partai-partai politik," ujar Aidir sembari meminta nama tempat dirahasiakan. (nwk/aba)










































