Dalam acara penganugerahan gelar di Balai Senat UGM, Yogyakartta, Selasa (4/3/2008), Rendra membawakan pidato yang berjudul 'Megatruh Kambuh, Renungan Seorang Penyair Dalam Menanggapi Kalabendu'.
Dalam pidatonya, suara Rendra sempat tercekat karena rasa haru saat mengungkapkan rasa hormat dan sembah sungkem kepada penyair besar Jawa abad 19, Ronggowarsito. Pidato Rendra berlangsung hampir 1 jam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini gara-gara saya menghujat leluhur saya, meski saya juga lahir di Surakarta," gurau Rendra yang langsung disambut tawa para undangan.
Sesaat kemudian listrik menyala kembali dan Rendra pun melanjutkan pidatonya. Dia mengutip Ronggowarsito mengenai tiga zaman, yakni zaman Kalatida, Kalabendu dan Kalasuba. Zaman Kalatida adalah zaman ketika akal sehat diremehkan. Zaman Kalabendu adalah zaman hancur dan rusaknya kehidupan karena tata nilai dan tata kebenaran dijungkirbalikkan secara merata. Sedang Kalasuba adalah zaman stabilitas dan kemakmuran.
"Yang dianjurkan Ronggowarsito agar selamat di masa Kalatida adalah selalu sadar dan waspada, tidak ikut permainan gila. Sedang di masa kalabendu, harus berani prihatin sabar, tawakal, dan selalu di jalan Allah. Saat di zaman Kalasuba ditandai adanya ratu adil," kata dia.
Rendra yakin zaman Kalasuba akan datang. Menurutnya, dalam setiap chaos pasti akan ada potensi untuk stabil dan teratur. Namun kestabilan belum tentu baik untuk kelangsungan kedaulatan rakyat. Di masa Lalasuba, manusia harus tetap berusaha, tidak sekadar sabar dan tawakal.
"Namun situasi semacam itu (zaman Kalasuba) tidak tergantung pada hadirnya Ratu Adil, tetapi tergantung pada hukum yang adil, mandiri dan terkawal," tukas Rendra.
Soal penganugerahan Doktor Hc kepada dirinya, Rendra mengucapkan terima kasih kepada (Alm) Prof Dr Koesnadi Hardjasoemantri SH karena telah mengusulkan dirinya memperoleh gelar tersebut. Hal yang sama disampaikan Rendra kepada Prof Dr Siti Chamamah Soeratno dan Prof Dr C. Bakdi Soemanto yang bertindak sebagai promotor dan co promotor.
"Saya banyak mendapat bimbingan dari dari Mas Kayam (Prof Dr Umar Kayam) dan Mas Koes (Prof Dr Koesnadi). Mereka keras sekali membimbing saya. Mas Kayam banyak mempengaruhi dalam pendekatan-pendekatan sosial dan kemanusiaan. Dan Mas Koes yang selalu kritis dan mengerem kalau saya kebablasen," kata penyair yang berjuluk si burung Merak itu.
Acara penanugerahan gelar ini dipimpin langsung Rektor UGM, Prof Soedjarwadi, MSc, PhD serta anggota Majelis Guru Besar UGM. Hadir dalam acara tersebutr Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) UGM, Prof Dr HM Amien Rais, mantan Ketua PP Muhammadiyah, Prof Dr Ahmad Syafii Maarif, serta sejumlah seniman dan budayawan seperti Butet Kertaredjasa, Djaduk Ferianto, Emha Ainun Nadjib, dan Slamet Gundono.
Rendra didampingi istrinya, Ken Zuraida, serta anak-anaknya. Saat menerima anugerah, Rendra mengenakan baju toga. Namun kancing baju putih pada bagian atas dibiarkan tetap terbuka karena tidak biasa mengenakan baju formal. (bgs/djo)











































