Siti mengaku suka menulis peristiwa yang ia hadapi ke dalam catatan harian. Dan belakangan ia punya ide menuangkan catatan-catatan itu dalam bentuk buku. Lalu, meluncurlah buku "Saatnya Dunia Berubah! Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung", awal Februari lalu. Tapi kemudian, buku serupa yang dicetak dalam versi bahasa Inggris yang berjudul "It's Time for the World to Change", membuat geger sejumlah kalangan di mancanegara, yang berujung penarikan buku tersebut untuk direvisi.
Soalnya dalam buku itu Siti berhasil menguak konspirasi AS dan badan kesehatan dunia, WHO, dalam mengembangkan senjata biologi dari virus flu burung, Avian influenza (H5N1). Perusahan-perusahan besar di negara maju sengaja mendompleng PBB, untuk mendapatkan virus itu dari sejumlah negara berkembang. Setelah jadi vaksin, mereka menjual ke negara berkembang, termasuk Indonesia, dengan harga yang mahal.
Sekalipun mendapat kecaman dari beberapa negara maju, toh ia tetap bersikukuh dengan fakta-fakta yang tertuang dalam buku itu. Bahkan dalam waktu dekat, perempuan pertama yang jadi Menteri Kesehatan ini, akan meluncurkan jilid kedua dari buku yang jadi kontroversi tersebut.
Ia menganggap perjuangan dari hegemoni bangsa kapitalis harus dilawan. Salah satu caranya dengan membeberkan kelicikan mereka.
Kontroversi yang dilakukan Menkes bukan kali ini terjadi. Beberapa kebijakan yang dilakukannya juga sering mengundang kritik dan hujatan dari beberapa kalangan di dalam negeri. Apa sebabnya? Berikut petikan wawancara Menkes dengan Deden Gunawan dari detikcom:
Apa alasan penulisan buku 'Saatnya Dunia Berubah'
Buku itu berisi catatan harian dan perjuangan untuk memperoleh keadilan dari negara berkembang. Kalau alasannya, ya saya hanya ingin membeberkan saja apa yang sebenarnya terjadi. Selama ini saya melihat negara-negara maju punya keinginan kuat menjajah negara-negara berkembang, dengan beragam cara. Salah satunya menggunakan organisasi-organisasi besar dunia untuk mengeruk apapun yang ada di negara berkembang.
Lah, kalau dunia ini menjadi satu bagian hegemoni bisa rusak. Contohnya Irak, negara besar yang oleh Amerika dianggap tidak bisa diajak kompromi, langsung dibom. Saya tentu tidak senang dengan cara-cara itu. Maka saya akan mengubah dengan cara saya. Kebetulan saya melihat celah-celah upaya mereka di bidang kesehatan. Akhirnya saya tulis yang saya ketahui ke dalam buku.
Apakah tidak takut dengan kekuatan negara-negara maju?
Tidak ada yang saya takutkan. Karena memang itu faktanya. Mereka tidak fair, dalam penanganan virus. Dan itu sudah mereka lakukan sejak puluhan tahun. Mereka memaksa negara-negara berkembang untuk mengirim virus. Setelah mereka teliti, dan menemukan vaksi mereka nikmati sendiri. Negara-negara penyetor virus tidak mendapatkan apa-apa. Padahal tanpa virus itu mereka tidak bisa berbuat apa-apa, sekalipun mereka punya alat dan uang.
Misalnya membuat pisang goreng. Mereka punya kompor dan wajan dan kita punya minyak goreng, pisang dan tepungnya. Setelah jadi goreng pisang mereka makan sendiri. Kalau kita ingin menikmati harus membeli. Ini jelas tidak fair dan membahayakan. Makanya saya kepingin, apapun yang berhubungan dengan negara asing harus fair, adil, dan transparan.
Setelah buku ini apakah ada buku lain yang akan diluncurkan?
Ada beberapa. Satunya adalah buku jilid kedua buku 'Saatnya Dunia berubah'. Selain itu saya akan bikin buku soal Aseskin, dan perjalanan sebagai menteri kesehatan.
Selama menjadi Menkes, banyak komentar Ibu yang jadi kontroversi. Apa sebabnya?
Mungkin itu dari orang yang tidak senang kepada saya. Bagi saya itu biasa. Kata-kata goblok sudah makanan sehari-hari sejak saya menjadi menteri
Mengapa demikian?
Karena saya terlalu berpihak kepada rakyat miskin. Dan mereka (off the record) merasa tidak senang dengan kebijakan itu. Karena keuntungan mereka jadi turun drastis. Saya juga sempat ditertawakan saat meluncurkan obat generik yang murah bagi rakyat. Padahal obat generik sangat terjangkau bagi rakyat. Setidaknya masyarakat punya pilihan dari resep yang dikeluarkan dokter.
Berarti program Depkes minim dukungan?
Bayangkan saja, masa Ketua Umum IDI (Dr.dr.Fahmi Idris), kepada sebuah koran mengatakan kalau obat generik, bukan hanya murah, tapi murahan. Padahal obat ini khasiatnya sama dengan obat-obat bermerek, dan harganya jauh lebih murah dan terjangkau bagi masyarakat.Kalau Ketua Umum IDI-nya saja tidak nasionalis begini, kita bisa jadi budak negara asing.
Saya sudah menegaskan kepada semua dokter untuk menulis obat generik di dalam resepnya, sebagai salah satu pilihan. Kalau tidak akan saya tindak. Begitupun dengan apotek yang tidak menjual obat generik, akan saya cabut izinnya.
Bagaimana dengan mitra Depkes yang lain?
Sama saja. Beberapa BUMN ada yang menolak membuat obat generik. Tapi pemerintah akan mengeluarkan kebijakan untuk putus hubungan dengan BUMN yang tidak mau bikin obat generik. Kita sudah mengeluarkan perpres tentang impor obat generik yang harganya sama. Bahkan lebih murah.
Untuk mengatasi masalah-masalah ini apa yang akan dilakukan?
Saya akan bertindak tegas. Kalau tidak dengan tangan besi masalah-masalah pelayanan kesehatan rakyat miskin akan terhambat. Karena selama ini banyak pihak yang cari untung dari masalah itu. Biar saya dibilang seperti preman tidak apa-apa. (ddg/iy)











































