Usai nasib malangnya ramai diberitakan berbagai media massa, simpati masyarakat mengalir deras ke bocah terus. Aneka makanan dan mainan diterima boca malang tersebut.
Di ruang perawatan anak, kelas II, kamar 1, RSU Haji, di Jl Daeng Ngepe', Makassar, Aco kini mulai lahap menyantap buah dan susu. Di samping kasurnya, terdapat kantong plastik berisi jus, biskuit dan kerupuk. Makanan ini semua baru berasal dari sumbangan warga. Aneka jenis mainan juga ada di dekatnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lina, bercerita, selama ini Aco dan saudara-saudaranya hanya bisa membeli kue atau cemilan lainnya kalau ada yang membelikan. "Dia makan bakso, atau mie kalau ada yang membelikan," ceritanya.
Aco adalah anak dari pasangan Bahri (30) dan Basse (27), warga Jalan Daeng Tata I Blok 5, Kelurahan Karang Tambun, Tamalate, Makassar. Ibu dan kakaknya meninggal diduga akibat kelaparan. Namun Pemkot Makassar membantah hal tersebut. Menurut mereka, ibu dan anak, meninggal karena terjangkit diare.
Sehari-hari, keluar Aco memang hidup di dalam jurang kemiskinan. Bahri yang sehari-hari berprofesi sebagai tukang becak, tidak mampu memberikan nafkah yang layak pada keluarganya. Tak jarang keluarga beranak 4 ini harus berpuasa karena tidak bisa membeli makanan.
(gun/djo)










































