Itu pengalaman sobatku yang baru saja tahun ini pulang dari tanah suci. Selepas itu, dia mengirimkan kata maaf kepadaku. Ini karena candanya yang gemes liat pundakku yang lemu alias gemuk juga. Artinya, apa yang perbuat sekalipun itu canda, semacam ada ‘pembalasan’ langsung di tanah suci.
Masih cerita sobatku sekaligus seniorku dalam jurnalistik ini, ketika mereka sama-sama usai berwudhu, Pak Haji yang mukul pundaknya terlihat kebingungan. Ketika akan melangkah ke masjid, sandal jepitnya hilang. Aku pun bertanya dengan sobatku itu, apakah pak haji itu gantian dijuluki haji sendal jepit? Atau jangan-jangan pak haji itu pernah nyolong sandal? Entahlah…..Yang jelas kata temanku itu, mereka sama-sama beristighfar, mengucap ampun kepada Tuhan.
Kalau urusan mukul pundak dan sandal jepit saja sudah membuat ‘repot’ sobatku itu, bagaimana dengan mereka yang berhaji bermodalkan dana koruptor? Atau mereka yang pergi haji dengan dana perusahaan yang tidak bertanggungjawab atas kasus Lumpur Sidoarjo?. Apakah mereka yang menelantarkan puluhan ribu jiwa masyarakat Sidoarjo waktu berwudhu airnya berubah jadi lumpur? Wallahu alam.
Banyak sudah pejabat kita ini mulai dari camat sampai pucuk tertinggi di negeri ini bergelar haji. Tapi gelar haji yang disandang para pejabat ini, tidak mampu membawa perubahan yang positif di negeri ini. Pulang dari haji bukan mau tobat mengabdi pada rakyat, tapi tetap saja para pejabat menyusahkan rakyat. Tetap saja mengambil uang rakyat dengan dalih untuk membela rakyat. Kalau demikian, jelaslah gelar pak Haji Pundak Lemu dan Haji Sandal Jepit ini, masih lebih bagus ketimbang mereka yang bergelar Pak Haji Pejabat.
Keterangan penulis:
Chaidir Anwar Tanjung adalah wartawan detikcom. Tulisan ini merupakan pendapat pribadi dan tidak menggambarkan sikap/pendapat tempat institusi penulis bekerja. (cha/iy)











































