Bahri datang ke RS Haji, Jl Daeng Ngepe, Makassar, Sulawesi Selatan, sekitar pukul 10.00 Wita, Minggu (2/3/2008). Dia baru dari pemakaman istri dan anaknya di kampung, Kabupaten Bantaeng, Sulsel.
Dia menuju lantai 2 tempat anak keempatnya, Aco (4), yang dirawat karena kelaparan. Sesaat setelah melihat Aco yang masih diinfus, dia pun memasrahkan perawatan anaknya itu pada Lina, orang yang rumahnya ditumpangi keluarga Bahri selama 5 bulan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pria berkemeja kuning kumal itu pun keluar kamar dan mencari tempat yang sepi. Dia pun duduk di sudut salah satu selasar RS Haji yang sepi untuk merenung. Setelah 1 jam, Bahri yang didekati wartawan pun berkeluh kesah.
"Saya kasihan istri saya dan anak saya meninggal. Saya tidak mau minum (mabuk-red) lagi,"sesal Bahri.
Penghasilannya yang didapat dari mengayuh becak pun tak mencukupi. "Kadang dalam 1 hari hanya dapat Rp 10 ribu. Yang saya pakai hanya beli rokok saja, terus sisanya saya kasih istri," katanya sambil mengisap rokok kretek dalam-dalam.
Bahri juga mengakui memang hanya mampu memberi makan nasi. Namun tetap diusahakan ada tambahan lauknya. Selebihnya Bahri mengaku tidak terlalu tahu makanan yang sehari-hari dikonsumi anak dan istrinya.
"Saya tidak terlalu tahu. Saya kan kerja dari pagi. Siang saya pulang tidur, malamnya saya pulang makan. Kalau sehari-harinya saya tidak tahu karena saya pergi bekerja," kata Bahri. (nwk/nrl)











































