Hal itu diungkapkan Wakil Koordinator TPM Ahmad Michdan saat ditanya wartawan di Solo, Jumat (29/2/2008) siang.
"Sebuah negara dengan pengamanan ketat yang konsen terhadap kejahatan teror, bagaimana seorang yang disangka pelaku teror bisa keluar. Negara yang menyatakan perang besar-besaran terhadap teroris, pastinya akan mengamankan tersangka teror super ketat," ujar Michdan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Michdan menyebut, keberadaan Kastari telah dimanfaatkan untuk justifikasi bahwa Jemaah Islamiah benar-benar ada dengan bukti ada jalur-jalur gerakan di Singapura. Padahal, sambung Michdan, sosok Kastari sangat simpatik dan sulit untuk dinilai sebagai orang yang membahayakan.
Menurut Michdan, Kastari ingin menjadi muslim yang baik. Namun di Singapura dia kesulitan mencari guru pembimbing keagamaan. Sampai akhirnya Kastari menemukan guru dari kelompok pengajian Abu Bakar Ba'asyir dan kawan-kawannya yang sering melakukan pengajian di Malaysia dan juga Singapura.
"Karena mayositras kelompok muslim berada di Indonesia dan dia (Kastari) juga keturunan Indonesia maka dia lalu ingin mendalami Islam di Indonesia. Dia orang simpatik. Saya lebih kenal dia daripada Sidney Jones. Saya ingin katakan itu. Dia mengatakan banyak hal pribadi kepada saya," ujarnya.
Michdan mengatakan, salah satu bukti Kastari orang baik dapat dilihat dari kasus yang dihadapinya. Menurut Michdan, Kastari hanya melakukan pelanggaran keimigrasian.
(mbr/djo)











































