Tahun lalu pidato awal tahun disampaikan pada 31 Januari. Sedianya pidato awal tahun hendak dijadikannya tradisi menggantikan pidato akhir tahun yang dipopulerkan oleh mantan Presiden Soeharto.
"Bahan-bahannya sih sudah siap. Belum juga dibacakan mungkin karena banyak kejadian belakangan ini," jawab pejabat Setneg yang dikonfirmasi tentang masalah ini di kantornya, Jl Majapahit, Jakarta, Jumat (29/2/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bersamaan dengan itu terjadi kenaikan harga komoditas pangan pokok masyarakat dan harga minyak mentah dunia. Belum lagi ada ancaman dampak resesi ekonomi AS.
Pemerintah pun bergegas mengantisipasi kemungkinan terburuk bagi perekonomian bangsa yang baru pulih dari krisis. Hasilnya adalah paket kebijakan 1 Februari tentang stabilisasi harga kebutuhan pokok, revisi APBN 2008 dan penghematan anggaran 15% untuk seluruh lembaga negara.
Menyusul kemudian keputusan penanganan sosial untuk para warga 4 desa korban baru lumpur Lapindo. Masalah terbaru adalah terus molornya penetapan paket RUU politik dan pemilu.
Sebenarnya tidak ada ketentuan bagi Presiden RI menyampaikan pidato pada awal atau akhir tahun. Kegiatan tahunan tersebut adalah konvensi yang berlangsung sejak era pemerintahan Soeharto.
Kala itu pidato tentang capaian pembangunan setahun terakhir dan target pemerintah untuk setahun berikutnya disampaikan pada malam menjelang detik pergantian tahun. Karena itu istilahnya adalah pidato akhir tahun.
Setelah sempat satu kali berpidato akhir tahun dan menuai kritik, SBY memutuskan menggantinya menjadi pidato awal tahun. Alasannya agar data-data laporan tahunan pemerintah kepada rakyat bisa lebih aktual, konkrit dan realistis.
Sejauh ini belum ada kejelasan apakah SBY akan melanjutkan tradisi itu. Semoga saja istilahnya tidak berganti menjadi 'Pidato Tengah Tahun'. (lh/aba)











































