Duet Mega-Meuthia Aneh, Elit Politik Sudah Frustrasi

Duet Mega-Meuthia Aneh, Elit Politik Sudah Frustrasi

- detikNews
Kamis, 28 Feb 2008 09:28 WIB
Duet Mega-Meuthia Aneh, Elit Politik Sudah Frustrasi
Jakarta - Meski putri-putri proklamator RI, duet Megawati Soekarnoputri-Meuthia Hatta dianggap tidak punya nilai tambah dan aneh. Wacana ini hanya menunjukkan elit-elit politik sudah pada frustrasi.

"Kok bisa menjadi ekstrem seperti ini, aneh, seperti orang yang kehilangan orientasi politik sehingga dimunculkan putri-putri proklamator. Ini menunjukkan elit politik frustrasi pada kepemimpinan nasional," cetus Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia (LSI) Saiful Mujani saat dihubungi detikcom, Kamis (28/2/2008).

Meski tidak mengatakan kans keduanya kecil, Mujani menilai tidak ada nilai tambah bagi pasangan ini. Nama Meuthia, imbuh dia, tidak pernah muncul secara spontan dalam 10 survei yang dilakukan LSI dalam 3 tahun terakhir untuk calon pemimpin yang diinginkan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dalam setiap survei kita selalu punya pertanyaan terbuka, responden bisa memilih siapa saja. Ini supaya kita bisa menjaring nama yang kita tidak pernah pikirkan. Dari 10 kali survei itu, nama Meuthia tidak pernah muncul," tutur Mujani.

Nama-nama yang sering muncul biasanya tokoh-tokoh yang sudah terkenal seperti Megawati, Jusuf Kalla, Amien Rais, SBY dan Gus Dur.

"Kalau Meuthia belum. Saya kira nama itu bisa dimunculkan meski tak ada spontanitas dari masyarakat. Tapi harus ada usaha dan kerja keras untuk menyosialisasikannya sama seperti kalau dipasangkan dengan orang lain," kata dia.

Karena meski keduanya putri-putri proklamator RI, tidak serta merta semuanya menjadi mudah.

"Kalau alasannya putri proklamator, harusnya pada Pemilu 2004 lalu Mega menang. Tetapi kenyataannya dia kalah dari SBY," kata Mujani.

Mujani juga tidak yakin pasangan ini nantinya mampu mendulang suara perempuan Indonesia. Pemilih perempuan di Indonesia, kata dia punya sifat demanding yang tidak jauh berbeda dengan pemilih laki-laki.

"Tidak hanya sekadar perempuan, tapi harus yang punya kompetensi. Buktinya dalam Pemilu 2004 lalu, suara perempuan lebih banyak memilih SBY. Jadi tidak sekadar jenis kelamin, kalau pun perempuan harus perempuan yang punya nilai tambah," ujarnya.

(umi/nrl)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads