Hati Nurani Wiranto

Kolom

Hati Nurani Wiranto

- detikNews
Rabu, 27 Feb 2008 09:05 WIB
Hati Nurani Wiranto
Jakarta - Pendaftaran partai politik hampir ditutup. Semula sekian ratus yang ancang-ancang, ternyata tak sampai sepuluh yang serius. Serius mendaftar dan melengkapi syarat yang ditentukan.

Di antara segelintir partai baru itu, ada satu yang bakal tampil sebagai buldozer. Menggilas partai yang lama, dengan memboyong anggotanya tuk dimasukkan ke gerbong yang sudah disediakan. Partai itu 'Hati Nurani Wiranto'.

Partai ini nasionalis spiritualis. Disebut begitu, karena namanya menyiratkan itu. Hati Nurani Rakyat (Hanura). Dari nama itu terkesan, bahwa sang tokoh (Wiranto) tidak bicara ndakik-ndakik dan neko-neko, tetapi memberi ruang yang luas bagi yang merasa sama batinnya.

Dan kalau bicara batin, maka itu bukan wacana. Omong besar yang lebih banyak berisi kebohongan dan dusta. Sebab batin adalah lautan kejujuran dan kebenaran yang paling benar. Tak perlu polesan dan tipu-daya, juga sulit untuk menerima rekayasa.

Jika benar begitu, maka kehadiran Hanura di jagad perpolitikan negeri ini ke depan akan banyak membuat kejutan. Kejutan bagi Hanura sendiri yang belia tapi jadi wadah sebagian besar rakyat yang lelah dibohongi dan dibodohi partai politik lain. Dan mengejutkan bagi partai lain yang tiba-tiba gembos, ditinggal kader yang dianggap loyal, kabur tanpa pamit.

Parta-partai lama yang akan dibuat shock Hanura itu ranking pertama akan diduduki Partai Golkar. Partai ini sejak lama seperti ayam kehilangan induk. Itu karena sang ketum tidak konsisten dan tak akomodatif. Selain, tentu, akibat 'jurus pendekar mabuk' yang kontra produktif.

Pola ini yang menjadikan pimpinan di level bawah jauh dari konstituennya. Pimpinan daerah tidak membumi. Sang pemimpin partai politik itu terkesan tidak tahu politik, dan secara simultan dikadali anggota tanpa sadar terus-terusan dikadali.

Akibat kesalahan-kesalahan itu, maka berbagai daerah yang menggelar pilkada selalu jago Partai Golkar dikalahkan 'Orang Golkar'. Kesalahan ini, ironinya justru disikapi dengan salah pula. Instruksi munas tahun lalu melahirkan 'Calon Tunggal' bagi Golkar dalam pilkada. Ini yang kian memberi ruang bagi kader Golkar lari dari Partai Golkar.

Rangking kedua Partai Demokrat (PD) dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Untuk PD kader bawah dan menengah yang punya kans lompat ke Hanura, sedang PDIP akar rumputnya salah tumbuh. Jadi jangan kaget jika banyak rakyat marhaen yang mulai lupa kandangnya.

Adakah dengan demikian Wiranto, sebagai dedengkot Hanura punya kesempatan besar untuk menduduki RI-I negeri ini? Kalau soal itu nanti dulu. Suara banyak masuk kantong partai, tak otomatis mengangkat sang pemimpin partai menjadi pemimpin negeri.

"Yah saya tahu maksudnya mas Djoko. Butuh berapa ton dinamit ya untuk meledakkan Gunung Merapi," celetuk Sang Ketum Hanura.

Itulah enaknya bicara sama-sama orang Jawa. Tak perlu berpanjang kata, sudah saling tahu apa yang dimau. Sebab seorang pemimpin dalam kosmologi Jawa, tidak hanya berbekal ambisi, tetapi sekaligus juga sudah menakar ambisi itu, termasuk secara metafisis. Dan meletusnya Gunung Merapi, itu bagian dari tengara mistis soal suksesi.

Keterangan Penulis:
Djoko Su'ud Sukahar, pemerhati budaya, tinggal di Jakarta. Alamat e-mail jok5000@yahoo.com. (djo/iy)


Berita Terkait