"Tolong kalau mereka yang tidak rapih, dirapihkan," ujar Mega dalam sambutannya dalam pelepasan 120 relawan anggota Badan Penanggulangan Bencana (Baguna) di kantor DPP PDIP, Jl Lenteng Agung Raya, Jakarta Selatan, Selasa (26/2/2008). Relawan tersebut dikirim ke 4 kota, yakni Blitar, Ngawi, Blora dan Bali.
Merasa disindir Mega, satu relawan berkelamin pria yang hampir seluruh rambutnya bercat merah langsung menundukkan muka. Dia pun langsung disoraki para relawan lainnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tolong saya minta kalau dua minggu ada yang stres, jangan malu minta mundur dulu. Kalau orang stres nolong, maka yang ditolong jadi tambah stres. Jadi tidak ada gunanya," ujar Mega yang mengenakan kaos berkerah dan lengan panjang berwarna krem ini.
"Orang kalau mau ditolong itu mempunyai tingkat emosi yang tidak stabil. Kalau dia melihat orang yang menolong tidak meyakinkan, jadi ya sudahlah biar orang lain yang menolong. Saya kasih contoh, orang yang tenggelam pasti bereaksi menatap penolongnya supaya tenang. Kalau tidak, dipukul saja biar pingsan daripada tenggelam. Coba saja tanya ahlinya, koreksi saya jika salah," kata Mega dengan nada datar.
Mega juga tak luput menyoroti para relawan yang mayoritas berkelamin laki-laki.
"Ini kan kalian juga mendapat perhatian tentang ibu hamil dan menyusui. Ketika dibawa ambulans, katanya sudah dapat kursus bidan. Saya lihat kenapa laki semua, perempuan sedikit. Padahal tingkat kegugupannya tinggi. Saya pikir gimana nanti kalau kepala bayinya keluar. Siapkah bapak ini menyambut kehidupan baru," tanya Mega.
"Bapak-bapak ini bapak siaga!" celetuk salah seorang relawan.
"Ya sih. Tapi apa iya yah? Saya lihat tampangnya dengar gitu saja matanya sudah ketap-ketip," seloroh Mega sambil tersenyum.
(nik/sss)











































