"Hasil pertemuan mengharapkan agar waktu pertambahan ini bisa dioptimalkan secara maksimal," ujar Ketua Pansus RUU Pemilu Ferry Mursyidan Baldan usai bertemu dengan sejumlah elit Partai Golkar di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (26/2/2008).
Agung yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Umum Partai Golkar melalui Ferry meminta Partai Golkar menjadi pelopor titik temu perbedaan antar fraksi. Caranya dengan meminimalisir item-item krusial yang akan diambil secara voting.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ferry juga membantah anggapan Partai Golkar memiliki kepentingan dalam RUU Pemilu seperti yang dinilai sejumlah pengamat politik.
"Kita tidak memiliki interest yang sangat besar terhadap RUU ini," kata politisi senior Golkar itu.
Menurut Ferry, Partai Golkar tidak memiliki harga mati terhadap beberapa item-item dalam RUU. Semua item yang diperdebatkan oleh Golkar bersifat fleksibel.
"Dari sejak pertama sampai sekarang kalau dilihat dari semua item, Golkar selalu bergerak," jelasnya.
Ferry menyontohkan, pada item parliamentary threshold (batas ambang minimal kursi yang harus diperoleh parpol di parlemen), Golkar tidak mematok harga mati pada angka 3 persen.
"Bahkan dalam Daftar Inventarisasi Masalah (DIM) kami, Golkar mengusulkan 1 persen. Tetapi kan kita bergerak agar terjadi titik temu dengan fraksi lain," ungkapnya. (ziz/umi)











































