Cium Tangan Terakhir Hj Eli

Kebakaran Permata Hijau

Cium Tangan Terakhir Hj Eli

- detikNews
Selasa, 26 Feb 2008 11:20 WIB
Jakarta - Siapa kira, pagi ini menjadi hari terakhir Hj Eli (44) mengantar anaknya ke sekolah. Perempuan yang dikenal pendiam oleh tetangga-tetangganya ini meninggal dengan mengenaskan.

Api melahap rumahnya setelah dia melepas senyum riang buah hatinya di sekolahnya masing-masing. Ketiga putranya yang kini dilindungi duka yakni Mutiara (2 SMP), Boris (1 SMP) Serina (1 SD). Tubuh Hj Eli juga habis dilahap si jago merah.

Tetangganya mengenang, istri dari Irsal Malik (44) tersebut sangat harmonis bersama ketiga anaknya dan suaminya. Tiap hendak berangkat sekolah, cium tangan selalu menjadi pemandangan menentramkan dari keluarga pengusaha konveksi tersebut. Eli mengantar ketiga belahan jiwanya, sementara Haji Indra --panggilan untuk Irsal Malik-- merapikan pesanan konveksi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dia pendiam. Sama tetangga nggak suka berbasa-basi. Tapi sangat sayang sama anak-anaknya. Anak-anaknya selalu mencium tangan sebelum berangkat," kata Ahmad (40), tetangga Hj Eli, di RT 10/12, Cidodol, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Selasa (26/2/2008).

Usai mengantar anaknya, seperti biasanya, Eli melanjutkan pekerjaan beres-beres rumah. Di dapur itu, wanita berdarah Padang tersebut mulai memasak untuk makan siang. Menurut tetangganya, dia tengah menyiapkan sup ikan, seperti tercium dari bau masakannya.

Tak dinyana, kompor gas bocor. Api menyambar dan tabung gas itu pun meledak.

"Ada ledakan sangat keras. Api langsung menyambar dan Ibu Eli lari keluar," imbuh Ahmad.

Akan tetapi, dalam hitungan menit, Eli kembali memasuki rumah saat api mulai membesar. Diperkirakan, ia hendak menyelamatkan surat berharga dan sejumlah perhiasannya.

"Saat mau keluar, dia terjebak. Saya tidak melihat dia keluar sampai ia ditemukan hangus terbakar. Saya hanya mendengar ada teriakan minta tolong. Awalnya keras, lama-kelamaan mengecil dan tidak terdengar," tutur Ahmad.

Kini ketiga anaknya telah dikumpulkan di rumah kakeknya yang tidak jauh dari lokasi kebakaran. Beserta ayahnya, keluarga harmonis tersebut tengah meratapi kepergian ibunda tercinta. Tidak mau diganggu, tak mau diusik. Semua terpekur dalam kesedihan. (Ari/sss)


Berita Terkait