Penerapan sistem yang bertujuan mengatasi kemacetan ini dinilai hanya memindahkan kemacetan ke jalur lain.
"Kalau ERP diterapkan, orang akan mencari jalur alternatif sehingga kemacetan akan lebih parah," ujar pengamat kebijakan publik dari UI Andrinov Chaniago dalam perbincangan dengan detikcom, Selasa (26/2/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Andrinov menjelaskan, solusi untuk mengurangi kemacetan, pemerintah harus mengurangi orang mempunyai kendaraan.
"Tapi pemerintah bersifat paradoks, orang didorong mengkonsumsi kendaraan tapi jalan dibatasi," beber dosen politik perkotaan dan kebijakan publik UI ini.
Andrinov melanjutkan, untuk di Indonesia, masalah kemacetan tidak bisa diterapkan secara sektoral, namun lintas sektor. Harus dikaitkan dengan perumahan, sistem keamanan masyarakat dan perlindungan masyarakat.
"Orang mau pergi naik kereta tapi takut kecopetan. Mereka jadi batal naik kereta," tutur pria yang sehari-hari lebih memilih naik mobil pribadi daripada naik TransJ ini.
Membandingkan ERP di negara lain, Andrinov menyatakan, ERP diterapkan pada jam-jam tertentu.
"Bahkan ada negara lain di tengah malam gratis, di jam padat mahal tapi di jam tidak sibuk murah," kata dia.
(nik/nrl)










































