Jebol Pintu Jadi Kebiasaan

Melarang Musik Underground (3)

Jebol Pintu Jadi Kebiasaan

- detikNews
Senin, 25 Feb 2008 15:00 WIB
Jakarta - Jenis musik underground yang berasal dari Amerika, merupakan genre musik yang lain dari pada yang lain. Musik jenis ini  irama dan liriknya tidak menentu, tidak terikat oleh tangga nada dan kebanyakan keras. Boleh dibilang musik jenis ini berada di luar pakem dari jenis musik yang ada, seperti rock, jazz, pop dan aliran musik lain yang sudah mapan.
 
Bukan hanya musiknya. Gaya dan penampilan para penggemarnya juga beda. Sebut saja gaya rambut berdiri tegak seperti rambut suku Mohauk. Ditambah aneka tindikan di bagian wajah. Penampilan eksentrik ini semakin bertambah dengan sepatu boots dan gelang-gelang tangan yang berpaku. Tentu tidak ketinggalan warna pakaian mereka yang hitam-hitam.
 
Gaya mereka yang seenaknya ini sering jadi perbincangan. Belum lagi ketika grup musik dari aliran ini mengadakan perhelatan musik. Adegan-adegan heboh pasti terlihat. Bahkan gerakan penontonnya agak terlihat brutal. Tidak heran bila banyak orang beranggapan mereka identik dengan kekerasan dalam setiap panggung pertunjukan musik.
 
Ketika dalam konser musik underground di Bandung awal bulan Februari berbuah ricuh dan menelan belasan nyawa, publik seakan memaklumi. Apalagi menurut beberapa penonton yang selamat, personel grup Beside, sempat membagi-bagikan minuman beralkohol kepada para penonton.
 
Maggie, drummer grup /rif, sangat menyesalkan kerusuhan  tersebut. Menurut grup band asal Bandung ini, kerusuhan di konser musik keras sudah bukan zamannya lagi. " Saya melihat penonton kita sangat jauh dengan penonton di luar negeri," jelas Maggie. Kalau di luar negeri, sekeras apapun musiknya, penonton masih bisa menikmati.
 
Tapi kericuhan dalam sebuah konser musik di Indonesia bukan didominasi komunitas underground. Beberapa konser musik rock yang 'agak' halus tercatat ikut menyumbang jatuhnya korban jiwa.
 
Misalnya pada  19 November 2000, di Bandar Lampung. Empat penggemar grup band Sheila on 7 tewas ketika grup pujaannya itu konser GOR Saburai Bandar Lampung. Empat nyawa juga melayang saat Sheila on 7 manggung di Stadion Lambung Mangkurat, Banjarmasin, 23 Februari 2004.
 
Grup band  /rif dan Nicky Astria ketika manggung di Stadion Bima, Cirebon, 24 Mei 2003, juga memakan korban satu penonton meninggal dunia. Berikutnya konser GIGI, akhir Desember 2004, di parkiran kampus Universitas Islam Negeri (UIN). Dalam konser tersebut dua mahasiswa tewas dan 57 penonton lainnya menderita luka-luka akibat kanopi di lantai 3 Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa ambruk. Beton semen sepanjang 6 meter itu langsung menimpa penonton di lapangan.
 
Di penghujung 2006, konser Ungu di Stadion Widya Mandala, Pekalongan, juga menewaskan 10  penonton.  23 Juni 2007, giliran Pas Band dan J Rock yang manggung bareng di Stadion Sangkuriang Cimahi yang memakan korban. Tiga penontonnya tewas saat konser sudah bubaran.
 
Aroma darah dalam beberapa pertunjukan musik di Indonesia menambah was-was masyarakat. Imej di sebagian masyarakat bahwa musik keras identik dengan kekerasan dan kerusuhan seolah terbukti. Padahal, dari penyelidikan polisi yang dipublikasikan ke masyarakat terkait konser berdarah di beberapa tempat, bukan hanya disebabkan kurang tertibnya penonton. Kelemahan penyelenggara konser menjadi salah satu faktor penting terjadinya kericuhan.
 
Bens Leo, pengamat musik Indonesia mengatakan, dari beberapa kejadian yang merenggut korban jiwa, andil  panitia penyelenggara cukup dominan. Hal ini disebabkan panitia kurang memahami dan mengantisipasi kebiasaan penonton di Indonesia. Misalkan kebiasaan penonton yang suka menjebol pintu masuk akibat kehabisan tiket atau enggan membeli.
 
"Seharusnya ketika pertunjukan sudah berjalan beberapa lagu, pintu masuk dibuka saja. Sebab pasti akan dijebol penonton " kata Bens Leo. (ron/iy)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads