Berawal dari Ujung Berung

Melarang Musik Underground (2)

Berawal dari Ujung Berung

- detikNews
Senin, 25 Feb 2008 13:09 WIB
Jakarta - Awalnya mereka sering kumpul dan bertemu di alun-alun Ujung Berung, kota Bandung. Yang mereka bicarakan umumnya seputar dunia musik. Dari sanalah sebuah grup band akhirnya terlahir di pertengahan 1997, dengan nama Besides.

Grup ini Lahir di tengah-tengah komunitas yang cukup ternama di Ujung Berung, dengan sebutan homeless crew. Komunitas ini tumbuh dan hidup bersama dengan mencintai jenis aliran musik yang sama, yakni underground.

Awalnya Besides banyak memainkan musik-musik hardcore, mulai dari Rykers, Strife, Earth crsis. Band ini sangat ngetop di kalangan underground pada pertengahan 1990-an. Seiring perjalanan, Besides sempat gonta-ganti personel. Bahkan di akhir tahun 2007, Fattah, salah satu gitarisnya undur diri karena sibuk bekerja di sebuah perusahaan swasta di Kota Bandung. Grup ini kemudian merekrut Ichad Heaven Fall untuk menggantikan posisi
fatah.

Dari bongkar pasang personel ini, sentuhan musik underground ala Besides semakin kaya corak. Gaya musik dari grup underground papan atas, semisal Inflames, Soilwork, Dragonforce, Slayer, Malevolent creations dan Kataklysm ikut mewarnai dalam gaya musik mereka.

Besides yang kini digawangi Agung (vokal), Akew Hin Hin (Gitar), Paneu (Bass), Chad (Gitar), Baby (Drum), langsung bisa menyelesaikan album perdana mereka yang bertitel "Against Ouerselves", yang dirilis akhir tahun 2007.

Untuk mempublikasikan album anyar mereka ke komunitas underground di Bandung, mereka kemudian meminta tolong kepada event organizer Eng-Ing-Eng untuk membuat konser musik underground. Keinginan ini kemudian disambut positif Eng-Ing-Eng.

Dua bulan kemudian Eng-Ing-Eng mengabarkan, Besides bisa mengisi konser musik Underground di jalan Braga, tepatnya di gedung Asia Afrika Central Culture. Sayangnya, konser perdana dalam promo album baru mereka, ternyata memakan korban. Sebelas jiwa melayang akibat terinjak-injak penonton. Dari kasus ini, Polda Bandung pun mengkaji untuk melarang konser musik underground.

Dugaan sementara polisi, Heru, ketua penyelenggara, lalai terhadap prosedur. Heru juga dianggap melakukan suap kepada pejabat polisi dan Pemkot Bandung, untuk mendapatkan izin. Padahal proposal pengajuan izin itu dilayangkan dua hari sebelum pertunjukan. "Heru merasa konser ini akan sukses dan menyedot para penonton," kata seorang perwira polisi di Polwiltabes Bandung.

Kapolda Jabar Irjen Susno Duadji, mengatakan, bukti itu terungkap setelah Polwiltabes Bandung melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah saksi termasuk tiga tersangka yang merupakan anggota dari event organizer Eng-Ing-Eng. Selain itu, lanjut Kapolda, dalam konser Band Beside, penyidik juga menemukan bukti penggelembungan jumlah tiket. Sejumlah tiket yang belum terjual juga diamankan polisi sebagai barang bukti.

Bukan itu saja, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jabar, Budhyana, sekarang juga tengah dibidik polisi. Sebab Budhyana, salah satu pihak yang ikut memberi izin. " Kalau memang keterangan dari Kepala Dinas dan Parawisata perlu, mereka kami periksa," kata Kapolwiltabes Bandung Kombes Bambang Suparsono.

Meski demikian, Bambang mengaku belum bisa memastikan jadwal pemanggilan dan materi pemeriksaan terhadap Budhyana, karena tim penyidik masih terfokus kepada pemeriksaan saksi yang terkait langsung dengan kasus kerusuhan konser musik di gedung AACC, awal Februari lalu. Pastinya, kata Bambang, hingga sekarang, saksi yang masih menjalani pemeriksaan berjumlah 51 orang. (ron/iy)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads