Akibat Polisi Teriak di Panggung

Melarang Musik Underground (1)

Akibat Polisi Teriak di Panggung

- detikNews
Senin, 25 Feb 2008 11:18 WIB
Jakarta - Baru sebulan terakhir Novi Fibriani gandrung nonton pertunjukan musik. Siswi kelas 3 SMP 11 Bandung ini, pertama kali menyaksikan pentas musik pada Januari silam, di Tegalega, Bandung. Yang kedua ia menyaksikan aksi grup Beside, salah satu grup musik underground asal kota kembang, Bandung.

Siapa sangka, pertunjukan yang berlangsung di Gedung Asia Afrika Cultural Center (AACC), Bandung, 9 Februari silam, rupanya menjadi konser terakhir yang Novi tonton. Gadis 15 tahun itu ikut tewas dalam konser maut yang memakan sebelas korban jiwa.

"Malam itu ia pamit mau main dan jalan-jalan sama kakaknya. Sama sekali tidak mengatakan akan nonton konser musik," kenang Eneng, ibunda Novi kepada detikcom.

Novi dan sepuluh korban lainnya tewas akibat terinjak-injak saat para penonton berebutan keluar dari gedung, yang terletak di Jalan Braga tersebut.

Sabastian, penonton konser yang selamat mengatakan, situasi malam itu sangat mencekam dan mengerikan. " Kejadian itu masih membekas di kepala saya," jelas Sabastian, warga Setia Budi, Bandung.

Sebenarnya, lanjut Sabastian, acara konser sekaligus launcing album grup Bisides yang bertitel" Against Ourselves", yang dimulai pukul tujuh malam itu, awalnya berjalan tertib. Tidak ada hal-hal yang bikin ngeri, sekalipun sejak sore para penggemar musik underground datang dari berbagai daerah di wilayah Bandung.

Harga tiket yang tidak seberapa mahal, yakni Rp 10 ribu, membuat ratusan remaja dengan dandanan unik, khas underground, mengalir deras. Dari catatan panitia, 850 penonton membanjiri gedung itu. Angka ini melebihi daya tampung gedung, yang hanya berkapasitas 700 penonton.

Ceritanya jadi lain di penghujung acara. Waktu itu, para personel Besides, yang memang sedang dinanti para penonton, mulai beraksi. Lagu berjudul Holyman, yang dibawakan Besides, membuat penonton serentak histeris dan berpogo, sebuah aksi khas penonton underground. "Ruangan semakin pengap dari asap rokok dan keringat," tutur Sabastian.

Suasana semakin seru ketika setelah pemutaran video klip "Holyman" melalui big screen di kanan kiri panggung para personel Beside terlihat membagikan beberapa gelas bir kepada penonton yang berada di barisan depan panggung.

Suasana semakin gaduh ketika acara berakhir sekitar pukul 21.00 wib. Polisi berpakaian preman, tiba-tiba berteriak-teriak menyuruh penonton segera keluar dari gedung. Beberapa polisi bahkan sempat memukul dan menendang penonton. Owank vokalis Besides, juga sempat dipukul aparat karena tidak mau menghentikan nyanyinya.

" Kita kecewa dengan sikap aparat yang tidak tanggap mengamankan acara," sesal Akew, salah seorang personel Besides kepada detikcom.Pria berambut pendek dan bertubuh sedang ini juga meminta maaf kepada penggemar musik underground untuk tidak kecewa atas kejadian tragis tersebut.

Padahal, imbuh Akew, grupnya dan komunitas underground se-Bandung, sudah berusaha menunjukan bahwa musik underground bukan musik setan dan identik dengan kerusuhan.

Tapi harapan Akew belumlah berjalan mulus. Bahkan sempat terbesit kabar, ajang konser musik komunitas musik bawah tanah di Bandung, akan dilarang Polda Jawa Barat. Namun ternyata polisi baru sebatas melakukan pengkajian.
"Sampai sekarang kami belum memtuskan untuk melarang. Masih kita kaji dulu," ujar Kabid Humas Polda Jawa Barat, Kombes Pol Dade Achmad. Tapi ia mengingatkan, para penyelenggara musik jenis ini diwajibkan melakukan perencanaan matang dengan mengedepankan keselamatan penonton. Setidaknya urusan ventilasi udara dan kapasitas gedung harus diperhatikan. (ron/iy)


Berita Terkait