Kisah buku ini bermula saat Pak Harto dirawat di RSPP pada Januari lalu. Yayan Sopyan, bos penerbit Media Kita, mengontak bos detikcom, Budiono Darsono. Yayan yang juga eks salah satu direktur di detikcom, mengusulkan agar detikcom menerbitkan buku tentang Pak Harto.
Jelas permintaan yang sulit, sebab konsentrasi kami saat itu adalah terus memantau kesehatan Pak Harto yang selalu dikatakan kritis, gawat, dan sangat sangat kritis. Namun tantangan itu tetap kami sambut. Iin Yumiyanti, Redpel detikportal, kebagian tugas menyiapkan materi dalam waktu 2 minggu!
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut rencana, setelah melalui pengeditan dan pencetakan, buku itu beredar di pasaran sekitar akhir Januari.
Tapi rencana itu terpaksa buru-buru direvisi ketika Allah SWT memanggil Pak Harto pada 27 Januari siang. Alhasil, konsentrasi kami langsung tertuju pada almarhum dan keluarganya. Penerbitan buku terlupakan. Namun Yayan Sopyan terus menyemangati kami agar kami merevisi materi buku agar segera terbit.
Begitulah, setelah pemberitaan tentang Pak Harto menurun, kami pun mengedit materi yang ada. 'Buku harian' Pak Harto kami tambahi lagi hingga akhir hayat Pak Harto.
Alhasil, buku yang terbit pekan lalu ini adalah buku komprehensif paling mutakhir, yang membidik detik-detik terakhir Pak Harto, baik dari segi kesehatan hingga kasus hukum.
Bab-bab yang termuat di buku setebal 150 halaman dan dibanderol Rp 30 ribu ini antara lain, Jenderal Besar Menghitung Hari, Mistis vs Medis, Misteri Telepon Tengah Malam, hingga Kontroversi Gelar Pahlawan untuk Soeharto.
Selain berita, liputan laporan khusus yang pernah dimuat di detikportal.com, juga ada sejumlah kolom kritis yang ditulis secara cerdas oleh Eddi Santosa, Didik Supriyanto dan Djoko Suud Sukahar.
Sebuah buku catatan sejarah negeri ini yang wajib Anda koleksi! (nrl/umi)











































