Naiknya Raul ke tampuk tertinggi kekuasaan di Kuba memang sudah diduga. Suksesi kekuasaan yang dilaksanakan hanya menjadi semacam formalitas saja. Dilansir AFP, Senin (25/2/2008), atau Minggu waktu setempat, 614 anggota Majelis Nasional Kuba menggelar pemilihan setelah Fidel Castro sebelumnya menyampaikan pengunduran dirinya pada Selasa 19 Februari lalu.
Selain memilih pemimpin tertinggi, Majelis Nasional juga memilih pemimpin angkatan bersenjata, wakil presiden pertama, 5 wakil presiden lainnya, sekjen partai dan 23 anggota Dewan Negara.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terpilihnya Raul memang tidak mengagetkan publik. Semenjak sakit pada 2006 silam, Fidel sudah menyerahkan keseharian roda pemerintahan untuk dijalankan adiknya. Publik Kuba, yang pro demokrasi sepertinya tidak terlalu terkejut dengan suksesi ini.
Karena, selama ini Raul yang juga menteri pertahanan dan pimpinan militer Kuba secara de facto sudah menjadi presiden. Pola pemerintahan Kuba dan arah kebijakan anti Amerika diyakini akan terus dipertahankan.
Tidak akan ada perubahan secara drastis yang bisa diharapkan terutama untuk demokratisasi, Jauh-jauh hari Raul bahkan sudah menegaskan akan tetap mempertahankan sosialisme seraya berjanji akan membawa negaranya menuju sosialisme yang lebih baik.
(bal/bal)











































