Tapi mungkin Anda bisa mengacu pada simulasi yang diadakan Cetro bekerjasama dengan beberapa LSM yang tergabung dalam Koalisi LSM untuk Penyempurnaan UU Paket Politik dalam simulasi pemilu di Pasar Mayestik, Kebayoran Baru, Minggu (24/2/2008).
Dalam siaran pers Cetro yang diterima detikcom, hasil simulasi menunjukkan mayoritas pemilih lebih suka cara mencontreng dari pada mencoblos. Hal ini dibuktikan dengan 86 dari 147 peserta simulasi (58,5%) berpendapat bahwa mereka lebih suka mencontreng untuk pemberian suara dalam pemungutan suara. Sedangkan 60 dari 147 peserta simulasi (40,8%) lebih memilih mencoblos dalam memberikan suaranya. Sisanya 1 peserta (0,7%), berpendapat tidak ada masalah dengan kedua cara pemberian suara tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Simulasi pemungutan suara ini diikuti oleh 147 peserta dengan berbagai macam latar belakang pendidikan, pekerjaan, umur dan jenis kelamin. Berdasarkan jenis kelamin peserta simulasi terdiri dari 91 laki-laki (61,9%) dan 56 perempuan (38,1%). Sedangkan berdasarkan tingkat pendidikan, peserta simulasi yang terbagi menjadi 3 kelompok. Peserta simulasi yang berependidikan rendah (tidak sekolah dan SD) sebanyak 20 orang (13,6%), berpendidikan menengah (SMP dan SMA) sebanyak 106 orang (72,1%) dan peserta yang memiliki pendidikan tinggi ( D 1 – S3) sebanyak 21 orang (14,3%).
Berdasarkan usia, peserta simulasi dibagi menjadi 4 kelompok. Kelompok I, peserta berumur 16 – 20 tahun sebanyak 16 orang (10,9%). Kelompok II, peserta berumur 21 – 40 tahun sebanyak 91 orang (61,9%). Kelompok II, peserta berumur 41 – 60 tahun sebanyak 35 orang (23,8%). Dan kelompok IV, peserta berumur 61 tahun keatas sebanyak 5 orang (3,4%). Dari semua peserta simulasi diketahui bahwa 93,9% (138 orang) pernah mengikuti pemilu atau pilkada. Sedangkan sisanya 6,1% (9 orang) adalah pemilih pemula yang belum pernah mengikuti pemilu atau pilkada.
(bal/bal)











































