Upacara pemakaman dipimpin Pangdam IV/Diponegoro Mayjen TNI Darpito Pudyastungkoro. Sejumlah pejabat yang tampak hadir, antara lain Mendagri yang juga mantan gubernur Jateng, Mardiyanto, Gubernur Jateng Ali Mufiz, Kapolda Irjen Pol Dody Sumantyawan, dan lain-lain.
Jenazah yang ditaruh dalam peti berbungkus bendara Merah Putih itu diberangkatkan dari rumah duka, Jl. Argopuro, Siranda, Semarang. Suasana haru mengiringi kepergiannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Inspektur Upacara Mayjen TNI Darpito mengatakan, H.M Ismail merupakan prajurit pejuang. Kerja dan karyanya telah diberikan kepada negara dan bangsa secara total.
"Tugasnya sebagai pangdam atau jabatan lain di kesatuan dan gubernur telah dilaksanakan dengan paripurna. Kita catat semua itu dengan tinta emas," ujarnya, Minggu (24/2/2008).
Ismail memulai karir militernya di Kodim Yogyakarta pada tahun 1948 dan menjabat sebagai Gubernur Jateng selama dua periode (1983-1993), saat Soeharto masih berkuasa.
Almarhum yang lahir di Cilacap, 31 Desember 1927 itu sempat dirawat di RS Telogorejo beberapa jam. Namun karena kondisinya terus memburuk, nyawanya tak tertolong. Ia meninggalkan istri Hj, E. Soemarsiyah, lima putra dan tiga putri.
Di rumah duka, sejumlah karangan bunga terpasang, antara lain berasal dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Wakil Presiden Jusuf Kalla, mantan Ketua Umum DPP Partai Golkar Akbar Tanjung, Ketua DPR Agung Laksono, dan sejumlah menteri. (try/asy)











































