Meski namanya restoran, jangan bayangkan tempat itu merupakan sebuah restoran besar nan mewah seperti umumnya restoran di Jakarta. Tampilan restoran Nelayan hampir mirip sebuah warung Tegal (warteg) atau kafe tenda di pinggiran jalan di Jakarta.
Namun bedanya, jika warteg dan kafe tenda Jakarta, bising oleh lalu lalang lalu lintas dan asap kendaraan bermotor, Restoran Nelayan sungguh berbeda. Udaranya sejuk, sebab ada sebuah hutan kecil di samping restoran. Sambil makan, pengunjung pun bisa melihat sejumlah kera bermain-main di ranting pohon.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat disajikan, aroma ikan bakar sungguh menggoda. Lalapan dari daun jambu mede, timun dan selada sudah kami siapkan di meja. Dan tidak lupa sambalnya, yang wow pedasnya sungguh berasa.Kami, empat wartawan dari Indonesia dan dua peneliti ISIS Malaysia, Ibu Wan Portia Hamzah dan Ibu Zainab dengan bersemangat langsung menyantap hidangan tersebut. Makan di restoran Nelayan seolah menebus keluhan kami yang belum menemukan makanan yang 'nendang' selama empat hari berada di Kuala Lumpur.
Di Malaysia, Restoran Nelayan, meski kecil dan sederhana, cukup di kenal namanya. Sejumlah menteri Malaysia yang datang ke Langkawi, banyak yang sudah mencicipi makanan olahan Bapak Abdul Rasyid Hasyim ini.
Soal rasa, menurut saya sih, hampir sama dengan masakan seafood yang tersebar di sejumlah pinggir jalan di Jakarta. Tapi tempatnya, dengan pemandangan alami hutan lengkap dengan kera-kera berlompatan, sungguh menimbulkan atmosfir yang berbeda . Maka jangan heran jika di Restoran Nelayan, kami pun jadi "hantu makan". Ini sebutan orang Malaysia untuk seseorang yang sangat suka makan. (iy/asy)











































