Suasana di sekitar Museum Fatahillah, Jl Taman Fatahillah No. 2, Jakarta Barat, Sabtu (23/2/2008), terlihat sedikit ramai. Di sebuah sudut, puluhan pekerja rumah produksi (production house) melakukan shooting adegan film.
Di sudut lain, belasan remaja asyik juga bergaya di depan kamera untuk adegan sebuah iklan produk kecantikan. Di tengah pelataran museum, pekerja penata lampu merapikan lighting panggung besar untuk pertunjukan musik. Di sayap kiri museum, ratusan anak SD memasuki museum untuk belajar sejarah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berbagai bangunan di kawasan Kota Tua yang merupakan peninggalan jaman Belanda memang menyisakan romantisme masa lalu. Lengkung langit-langit yang tinggi, jalan lebar dan rapih, taman yang sejuk, dan tembok tebal dengan lubang ventilasi yang lebar menawarkan kenyamanan yang berbeda.
"Beda sama rumah dan gedung perkantoran sekarang. Semua berdasar fungsi efisiensi, ada sisa tanah sedikit, langsung dibangun. Langit-langitnya rendah, ventilasi minim. Kepanasan, pasang AC," lanjut bapak 2 anak yang bekerja pada perusahaan asuransi itu.
Museum Fatahillah memiliki arsitektur abad ke-17 bergaya Barok klasik dengan tiga lantai. Bagi sebagian orang, bangunan ini memang menorehkan kesan mendalam, tidak glamour dan susah untuk dilupakan. Bangunan yang dirancang tanpa rekayasa cahaya, warna natural, dan pergerjaan yang serius, dan mempertimbangkan fungsi lingkungan.
"Kalau di kafe atau di hotel, semuanya sama. Mirip dan itu-itu aja," tukas Dona (26), di sela-sela sebuah pemotretan pre-wedding.
Terlepas dari urusan selera, sebagai sebuah penanda zaman, arsitektur dapat menunjuk pada perilaku dan cara pandang masyarakat. Pada titik paling serius, bangunan atau arsitektur merupakan perwujudan sosial dan keputusan politis suatu pemerintahan. Bangunan lama digusur atau dipertahankan, membangun apartemen atau rusun, memperbanyak mall
atau memperbaiki sekolah ambruk dan kampus yang terseok-seok. (Ari/djo)











































