Ruminah adalah satu dari sekian ribu, atau mungkin jutaan, pengemis di Jakarta. Profesi itu terpaksa dijalaninya untuk menopang kehidupan keluarganya yang cukup sederhana alias miskin.
Mengemis bukanlah pekerjaan utama wanita paruh baya itu. Dia masih memiliki segudang pekerjaan lain untuk sekadar bisa hidup di kota metropolitan ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sepulang memulung pun wanita ini tak langsung bisa beristirahat, meski hanya sekadar memicingkan mata. Dia masih punya tuga lain sebagai buruh cuci pakaian dengan upah Rp 100 ribu per bulan. Nah, sisa hari lainnya itu yang dimanfaatkan Ruminah untuk mengais rezeki dari para dermawan yang sudi menyisihkan recehan.
"Capek. Tapi mau gimana lagi. Anak nggak ada, pas buat kontrakan dan makan," ucap Ruminah setengah bergumam.
Menurut Ruminah, 'bekerja' sebagai pengemis juga harus punya strategi jitu jika tak ingin pulang dengan tangan kosong. Salah satunya, harus paham dimana dan kapan orang biasanya memberikan sumbangan.
"Mider (muter), nyari sedekah. Kalau Jumat di Masjid, Sabtu di Klenteng (Vihara), Minggu di Gereja," tutur Ruminah memaparkan strateginya. Seperti dikatakannya, Sabtu (23/2/2008) ini, Ruminah ditemui detikcom tengah mengemis di sebuah vihara di kawasan Petak 9, Glodok, Jakarta Barat.
Hari-hari lainnya yang menjadi dambaan Ruminah adalah hari-hari besar keagamaan, entah Islam, Kristen, Budha atau yang lainnya. Di hari-hari tersebut, Ruminah juga pengemis lainnya, bisa mendapatkan rezeki yang lebih besar dari biasanya. Ternyata menjadi seorang pengemis pun harus cerdas. (Ari/djo)











































