Rani (25), mahasiswi FISIP UI semester 6 punya pengalaman yang tak terlupakan. Pengalaman itu diceritakan kepada detikcom. "Ini untuk berbagi pengalaman supaya hal yang mengerikan yang sering dibaca di media itu tidak menimpa kita," ujarnya.
Jumat (22/2/2008) pukul 18.00 WIB, dia terburu-buru hendak kuliah menuju Kampus UI, Depok. Dari Warung Buncit, dia menanti taksi biru favoritnya. Namun, taksi langganannya tak kunjung lewat. Karena waktu masuk kuliahnya semakin sempit, dia pun asal memilih taksi yang lewat.
Akhirnya Rani menumpang sebuah taksi. Jujur saja, sejak masuk taksi, hati Rani sudah dag dig dug. Namun karena terburu-buru, Rani tidak mengikuti kata hatinya.
Di dalam taksi, sopir yang tidak mengenakan seragam itu mulai mengajaknya berbincang-bincang.
"Mau ke mana, Mbak? tanya si sopir yang menutupi wajahnya dengan topi.
"Ke UI Depok, Pak," jawab Rani.
"Wah, Tuhan itu baik ya, Mbak. Dari tadi saya kalah terus dari taksi-taksi lain. Eh ada mbak, soalnya saya pulang ke Kelapa Dua," kata si sopir sambil terus mengemudikan mobilnya.
Di dalam taksi, Rani kemudian asyik mendengarkan ipod sambil membuka laptopnya untuk mengerjakan tugas. Si sopir mencoba mengajak berbincang Rani. Namun karena Rani sibuk mengerjakan tugas kuliahnya, dia tidak mempedulikan ajakan mengobrol sang sopir.
Di fly over Tanjungbarat, Rani mencium bau yang mencekat hidungnya dan membuat tenggorokannya terasa sakit. Perasaan deg-degannya pun timbul kembali. Kemudian dia langsung menutup laptopnya dan melihat kondisi jalanan.
Saat melirik ke identitas sopir, Rani hanya melihat kertas fotokopi yang ditempeli foto sesuai wajah sopir. Rani pun semakin panik hingga tak sempat mencatat nomor taksi.
Beruntung, lalu lintas di Jl TB Simatupang depan Gedung Aneka Tambang sedang macet. Dengan segera dia meminta diturunkan di tempat itu juga.
"Pak, Pak, saya turun di sini saja," pinta Rani.
"Lho, nggak jadi ke UI, Mbak?" sergah si sopir
"Nggak jadi Pak, barusan saya ditelepon saudara," kata Rani sambil mengangsurkan uang Rp 20 ribu dan membuka pintu taksi.
Berhasil keluar dari taksi tersebut, Rani pun menangis tersedu-sedu dan langsung menghubungi temannya. Rani tak mengetahui secara persis apa yang akan dilakukan sang sopir taksi kemudian, meski di hati kecilnya, dia merasa ada sesuatu yang tidak beres yang akan terjadi. Bagi dia, sikap waspada adalah lebih baik, untuk menghindari risiko yang lebih besar.
Apakah sang sopir taksi akan berbuat jahat terhadapnya? Merampok barang kali. Bau-bauan menyengat bisa saja pertanda untuk itu. Tapi, akhirnya Rani berusaha menenangkan dirinya. Setelah menenangkan diri, Rani tak jadi kuliah dan memilih pulang. Kali ini Rani sabar menanti taksi biru favoritnya lewat.
Cek Ban
Pengalaman hampir serupa dialami Gusti (30). Dia terpaksa naik taksi dari Bogor ke Kampung Rambutan pada malam hari. Taksi yang dianggapnya aman tak kunjung lewat. Lama menanti, terpaksalah Gusti naik taksi yang lewat namun dikenal kurang aman.
"Was-was banget sebenarnya, tapi waktu itu udah kepepet banget, sebab cuma dia yang lewat, sementara sudah malam," tuturnya.
Saat memasuki jalan tol, sopir taksi bertindak mencurigakan. Sopir tiba-tiba meminggirkan mobil dan keluar dari mobil dengan alasan mengecek ban. Gusti pun panik.
"Saya langsung pura-pura menelepon saudara dengan suara keras mengabarkan posisi saya ada di mana dan naik taksi apa, nomor taksi, dan nama sopirnya. Tak berapa lama si sopir masuk lagi. Saya tetap telepon-teleponan mengabarkan posisi. Syukurlah akhirnya saya selamat sampai Kampung Rambutan," tutur Gusti lega, yang saat itu melanjutkan perjalanan ke Lampung.
"Meski saat itu belum terjadi apa-apa, tetap waspada memang sangat perlu, apalagi buat kaum perempuan," ucap Gusti. (sss/asy)











































