Apalagi, selama ini tidak seluruh ilmuwan yang memiliki kemampuan di bidang geologi dan perminyakan yang dilibatkan.
"Sejauh ini pemerintah melalui Kementerian ESDM hanya bekerja sama dengan jurusan perminyakan dari ITB saja, dalam mencari solusi untuk menutup semburan lumpur Lapindo," kata Dosen Institut Teknologi Surabaya (ITS) Amien Widodo yang dihubungi wartawan, Jumat (22/2/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Beberapa ilmuwan lain sebenarnya juga memiliki hasil kajian yang menunjukkan hal itu. "Makanya mengapa pemerintah tidak melibatkan ahli geologi lainnya untuk mencari jalan keluar. Bukan hanya ITB yang punya ahli tentang masalah itu," lanjutnya.
Sementara sumber yang menolak disebutkan namanya menyatakan, selama ini muncul kesan di masyarakat bahwa kasus lumpur Lapindo menjadi proyek kelompok geologi ITB saja. Padahal mereka telah gagal menutup sumber luapan lumpur dengan bola-bola besi dan hanya menghambur uang.
"Sebab bola besi tersebut ikut tenggelam ditelan lumpur Lapindo," ujar sumber itu sambil menyebutkan proyek teknologi relief well yang akan menelan biaya US$ 70 juta belum tentu berhasil menutup sumber lumpur.
(zal/nvt)











































