"Mereka masih penelitian DNA, butuh paling tidak 1 minggu untuk bisa memastikan mayat yang ditemukan di Tawi-tawi itu adalah Dulmatin. Kita terus memantau proses pemeriksaan DNA," ujar juru bicara Deplu Kristiarto Legowo.
Hal itu disampaikan dia di Kantor Deplu, Jl Pejambon, Jakarta, Jumat (22/2/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Direktur Perlindungan WNI Deplu Teguh Wardoyo mengatakan,
"Jangankan akses konsuler, tanggapan saja belum ada," kata Direktur Perlindungan WNI Deplu Teguh Wardoyo ini adalah keempat kalinya Dulmatin dikabarkan telah ditangkap atau tewas. Namun ini juga keempat kalinya Indonesia tidak mendapat kejelasan meskipun telah menggunakan akses konsuler.
"Ini sudah keempat kalinya. KBRI di Manila belum mendapat tanggapan," cetusnya.
Dia menambahkan, meski Filipina adalah sesama anggota ASEAN, namun akses konsuler untuk mengonfirmasi kabar itu sulit diperoleh. "Kita cuma bisa mendesak. Itu hal yang tidak mudah," sambung Teguh.
Klaim penemuan jenazah yang diduga Dulmatin itu bergaung kali ini bersamaan dengan berdengungnya kembali isu korupsi Presiden Filipina Gloria Macapagal Arroyo. Isu korupsi itu memicu demo ribuan warga Filipina. Bahkan 71 menteri dan pejabat teras pemerintah mengajukan petisi agar Arroyo mundur.
Sebagian kalangan pun menilai kabar penemuan jenazah Dulmatin hanyalah pengalihan isu Arroyo? Benarkah demikian, pihak Arroyo yang tahu pasti. (nvt/sss)











































