Yang tidak biasa melukis jadi pelukis. Yang tidak pernah bikin puisi jadi pandai merangkai kata dan rupa.
Tujuh tahanan KPK ini dititipkan di Polda Metro Jaya, lapas Cipinang dan Salemba.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mulai Jumat (22/2/2008) hingga 26 Februari 2008, karya mereka bisa dinikmati di Hotel Nikko, Jakarta. Pameran tersebut, menurut penyelenggara acara Rian Mega kepada detikcom, mengusung tema "NarARTpidana: kreativitas dari balik jeruji besi".
Mantan Bupati Kutai Kartanegara Syaukani HR menyajikan
puisi rupa berjudul "Meniti Kodrat". Dibantu temannya, dia membuat puisi rupa dengan memanfaatkan barang-barang bekas dan benda-benda yang dijumpai dalam kamar tahanan seperti kertas tisu, guguran bunga anggrek, buah jeruk, kerikil dari dalam pot, hingga plastik.
Dalam kepasrahan, Syaukani merasa apa yang dijalaninya kini sebagai kodrat Tuhan. Maka dituangkanlah semua perasaannya itu dalam puisi rupa.
Sementara itu keenam rekannya mengetengahkan lukisan di atas kanvas. Warso Susila yang merupakan mantan Kepala Dinas Pendapatan Keuangan Daerah (DPKD) Kabupaten Kendal, yang juga pemakarsa pameran ini, melukis berbagai obyek, mulai dari kuda, perempuan telanjang, buah, bunga, Lapindo, hingga kesunyian dirinya bertahun baru di dalam tahanan.
Sedangkan Budi Susanto, mantan Presdir PT Armada Usaha Bersama melukis busway dengan pintu digembok, kuda, klenteng hingga bunga dengan warna-warna kuat dan sapuan tegas.
Amiruddin Maula, mantan Walikota Makassar, lebih senang
melukis istri, anak dan cucu dengan nada ceria.
Eda Makmur, mantan Konjen Johor Malaysia, menghiasi
kanvasnya dengan aneka bunga.
Hadi Wayarabi Al Hadar, mantan Dubes, menjelajah pemandangan hingga religiusitas. Sedangkan Bambang Suroso, mantan staf Mabes-AL, Inkopal, menjelajah pemandangan laut hingga hutan.
"Pameran disponsori rekan-rekan mereka. Sebagian dari hasil penjualan lukisan. Karena sebagian lukisan sudah ada yang terjual, harganya paling rendah Rp 3 juta," kata Rian.
Meski menggelar pameran secara khusus, kata Rian, para napi ini tidak menjual seluruh karya mereka. Sebagian tetap menjadi milik pribadi.
Seniman dan budayawan Arswendo Atmowiloto menorehkan kesannya dalam pengantar katalog pameran tersebut.
Arswendo yang pernah mencicipi sumpeknya sel tahanan menuturkan, proses diri selama dalam terminal ajaib (penjara) ini memungkinkan seseorang diubah menjadi pelukis, atau penceramah agama, atau yang tak terpikirkan
sebelumnya.
"Menurut saya, ini adalah proses yang membuat dewasa secara batin, dan menempatkan diri kita bisa bersyukur dalam segala hal, untuk segala hal," katanya.
Dia meminta agar masyarakat awam hingga pengamat seni tidak melihat karya-karya para napi ini dari aspek seni melulu. Sebab di dalam prosesnya, karya-karya tersebut lahir dari beragam motivasi. Katakanlah untuk mengusir sepi, terapi, hingga sarana mendekatkan diri pada Tuhan.
"Kalau filosof Descartes berkata cogito, ergo sum (saya berpikir, karena itu saya ada), mungkin bapak-bapak ini ingin berkata, saya berkarya, maka saya (masih) ada," kata Arswendo. (umi/nrl)










































