Vuile smeerlap! Itu memang kata umpatan, masih satu keluarga dengan godverdomme dan sejenisnya. Tak enak dibaca, tak enak didengar. Jadi kalau Anda ke Belanda jangan sembarangan mengucapkan kata ini. Orang bisa tersinggung atau menilai Anda tak tahu sopan. Tapi dalam pergaulan sehari-hari, orang Belanda sendiri suka menyemprotkan kata ini, terutama jika perbuatan orang sudah sangat keterlaluan dan merugikan.
Saya tidak tahu varian apa yang keluar dari mulut orang Sidoarjo dan sekitarnya saat ini, sebab saya belum pernah ke sana. Tapi hampir bisa dipastikan bukan doa baik bagi para pemicu kesengsaraan mereka. Terlebih lagi bagi para politisi di DPR, ilmuwan dan media massa yang merendahkan dirinya menjadi smeerlap-smeerlap, dengan menyimpulkan bahwa lumpur yang menenggelamkan mereka itu adalah bencana alam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sekarang luasan kerusakan itu mau dibebankan ke APBN, yang artinya 235.000.000 rakyat Indonesia harus memikul akibatnya. Sementara para pemilik dan kaki tangannya tertawa-tawa di layar televisi dan koran. Kok bisa? Smeerlapkah itu atau bukan? Saya tak tahu. Anda tahu?
Keterangan penulis:
Penulis adalah koresponden detikcom di Belanda. Tulisan ini merupakan pendapat pribadi dan tidak menggambarkan sikap/pendapat tempat institusi penulis bekerja. (es/es)











































