Buku yang disusun berdasarkan catatan harian ini berisikan bagaimana perjuangannya dalam menghadapi ketidakadilan yang diterima Indonesia selama menghadapi virus flu burung (H5N1).
Dalam buku setebal 182 halaman itu, Siti membeberkan, sebagai negara dengan kasus kematian terbesar akibat virus flu burung, kita justru kesulitan mengakses hasil penelitian dari sampel virus H5N1 strain Indonesia. Padahal Indonesia membutuhkan hasil penelitian WHO untuk mencegah terjadinya wabah yang lebih besar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia menambahkan, oleh perusahaan-perusahaan tersebut, sampel virus dikembangkan menjadi vaksin dan kemudian dijual secara komersial dengan harga yang sangat mahal kepada negara-negara miskin dan berkembang.
Bagi Siti, persoalan flu burung bukan lagi menjadi sekadar masalah kesehatan. Ada kebobrokan yang sangat akut dan konspirasi negara-negara maju terhadap negara miskin dalam sistem pengorganisasian kesehatan dunia di bawah WHO yang sangat eksploitatif. Dan itu telah berlangsung selama 50 tahun.
"Semuanya dikuasai oleh kehendak yang tidak manusiawi dan didasari ketamakan penumpukan kapital dan nafsu untuk menguasai dunia," cetus Siti.
"Di cakrawala tiba-tiba saya sadar bahwa kasus flu burung adalah cermin bagi berbagai persoalan dunia yang membawa kesengsaraan umat manusia sekaligus menunjukkan jalan keluarnya. Sudah saatnya dunia berubah!" tegas Siti.
(bal/nrl)











































