"Terus terang saja ini seperti menciptakan proyek saja untuk cari duit. Bukan untuk menutup semburan," ujar anggota Tim Pengawasan dan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (TP2LS) Nizar Dahlan saat dihubungi detikcom, Jumat (22/2/2008).
Menurut Nizar, rencana gerakan tersebut untuk melakukan relief well di pusat semburan lumpur hanya akan sia-sia. Sebab, timnas lumpur Lapindo pernah melakukan upaya serupa, tapi gagal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Berapa dan dari mana biaya yang akan dipakai gerakan itu? Biaya anjungan untuk pengeboran saja US$ 5 ribu. Jadi orang-orang ini sepertinya hanya ingin cari proyek dengan memanfaatkan kasus Lapindo," cetus Nizar.
Nizar juga menyayangkan keikutsertaan Salahuddin Wahid alis Gus Solah dan mantan Ketua PP Muhammadiyah Syafi'i Ma'arif dalam gerakan itu. Menurutnya, keduanya sengaja digiring untuk melegitimasi gerakan yang dinilainya tidak jelas.
"Saya ini ahli pemboran dan geologi Unpad. Sudah 5 tahun bekerja di pengeboran minyak. Jadi tahu persis, kalau semburan lumpur Lapindo itu fenomena alam. Tidak masuk akal untuk melawannya," pungkas politisi PBB ini.
Gerakan Menutup Lumpur Lapindo dideklarasikan bersamaan dengan peluncuran buku "Membunuh Sumur Lapindo" di gedung DPR pada Kamis 21 Februari. Gerakan ini menyesalkan ketidakseriusan pemerintah untuk menutup pusat semburan lumpur Lapindo, sehingga berupaya untuk menutup semburan tersebut.
(rmd/gah)











































