Ahli geologi dari ITB Rudi Rubiandini mengatakan bahwa munculnya gas itu tidak berkaitan langsung dengan semburan lumpur panas. Namun, gas keluar karena lapisan bawah tanah sudah growok alias kopong.
"Akibat kosong, tanah jadi turun. Tanah jadi penuh dengan rekahan. Lalu shallow gas keluar dari sana dan juga mengandung air," katanya saat dihubungi detikcom, Kamis (21/2/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Seharusnya tidak dilebih-lebihkan," ujarnya.
Sayangnya, Rudi tidak bisa mengestimasi sampai kapan semburan gas itu akan bertahan. "Tidak bisa dijelaskan sampai kapan," pungkasnya. (gah/rmd)










































