Nangis Aku, Tak Tarikin

Wawancara Khusus Menkes:

Nangis Aku, Tak Tarikin

- detikNews
Kamis, 21 Feb 2008 17:28 WIB
Nangis Aku, Tak Tarikin
Jakarta - Kevokalan Menkes Siti Fadilah Supari memprotes ketidakadilan 'bisnis' virus flu burung diabadikan dalam buku bertajuk Saatnya Dunia Berubah! Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung. Namun edisi bahasa Inggris buku ini ditarik karena salah penerjemahan.

Buku edisi bahasa Inggris ini sempat diramaikan media asing, utamanya media Australia, karena mengindikasikan sampel virus flu burung digunakan AS untuk senjata biologi.

Berikut ini wawancara khusus detikcom dengan Menkes Siti Fadilah Supari di ruang kerjanya, Jl HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Jumat (21/2/2008):

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Apa alasan penarikan buku?
Inisiatif saya sendiri. Karena akibat beberapa kesalahan ketik. Aku baru menemukan. Saya minta revisi kan. Saya cek satu persatu dan menemukan kesalahan-kesalahan yang cukup banyak dan cukup penting

Ada salah yang krusial?
Ada yang prinsip dan ada yang biasa-biasa aja

Buku Anda menyebutkan AS membuat senjata biologi dari virus flu burung?

Nggak ada tuh dalam buku versi bahasa Indonesia. Nggak ada.

Di buku versi Inggris?
Tidak ada tudingan seperti itu. Saya waktu pidato hanya mengatakan "maybe". Karena kita tidak tahu. Karena memang tidak transparan seehingga kita tidak tahu sampel virus itu digunakan untuk apa. Apakah itu digunakan sebagai bahan untuk membuat vaksin atau untuk membuat senjata biologis kita tidak tahu. Begitu kalimat sesungguhnya seharusnya. Tapi diterjemahkan ke dalam versi Inggrisnya itu tendensi ke US Government. Saya tidak pernah meng-accused suatu negara mana pun.

Tapi Ibu melontarkan pernyataan itu dari mana data-datanya?
Justru karena saya tidak tahu. Buat apa.

Tapi pernyataan soal senjata biologi itu?
Loh kalau virus dipakai untuk senjata biologi masa aku nggak tahu.

Jadi sama sekali tidak menyebut AS?
Nggak. Di buku versi bahasa Indonesia tidak ada tapi kenapa di versi bahasa Inggris tiba-tiba ada. Siapa yang mesti bertnggung jawab.

Siapa Bu yang harus bertanggung jawab?

Penerjemah dong.

Ibu sempat baca sebelum versi bahasa Inggris diterbitkan?


Nggak sempat. Saya bikinnya bahasa Indonesia, dan penerjemahannya saya serahkan ke orang lain.

Versi Indonesia dan Inggrisnya terbitnya sama?
Sama. Saya hanya ngecek yang bahasa indonesia, yang teman saya yang bahasa Inggris. Itu yang kelewat.

Sikap WHO bagaimana sekarang?
Lah wong kita sudah menemukan solusi.

Kenapa David Heymann dari WHO menyebut penarikan buku itu atas permintaan Presiden SBY?
Nggak, salah, sama sekali tidak ada.

Presiden sudah tahu, Bu?
Sudah

Kapan Ibu tahu buku Ibu jadi polemik?
Seminggu lalu. Nangis aku. Tak tarikin, karena aku tahu itu salah, tak tarikin.

Buku Ibu dicetak berapa?
Masing-masing 1.000 eksemplar. Versi Inggris ditarik semua akan diedit kembali karena ada kesalahan. Disamakan dengan versi bahasa Indonesia.

Proses penulisan buku berapa lama?

Sebulan setengah sampai dua bulan. Karena saya sudah punya catatan. Ini kan dari catatan harian.

(bal/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads