"Sekitar dua minggu lalu, saya ditelepon seseorang, terakhir 4 hari lalu. Dia mengatasnamakan Andi Mallarangeng. Suaranya persis," ungkap Mahfud kepada wartawan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (21/2/2008).
Pria tersebut kemudian meminta uang Rp 55 juta untuk ditransfer ke sebuah rekening BCA di kantor Cabang Kebayoran Baru. "Janjinya dia akan memuluskan pencalonan saya. Ya saya tolak, saya bukan orang bodoh!" cetus Mahfud.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya sempat menjanjikan untuk mentransfer uang itu dua minggu lalu saat dia kontak-kontak terus. Kita kirim orang tapi tidak nutut waktunya. Ya jadi nggak tahu siapa," ujar Mahfud.
Menhan era Presiden Gus Dur ini mengaku sudah mengonfirmasikan hal tersebut kepada Andi. Saat dikonfirmasi Andi membantah terlibat upaya pemerasan itu.
"Saya sudah kontak Andi karena beliau itu teman saya sejak di AS, dia bilang nggak benar itu. Memag banyak orang-orang yang mengaku mengatasnamakannya untuk modus penipuan," tutur Mahfud.
Untuk menghindari pemerasan, Mahfud mengimbau calon hakim MK untuk berhati-hati karena bukan tidak mungkin upaya yang sama dilancarkan untuk calon lainnya.
Selain itu, Mahfud juga mengaku ditelepon orang-orang yang mengatasnamakan partai untuk meminta uang dukungan. Tetapi saat dikorfirmasi kepada petinggi-petinggi parpol itu, mereka menolak upaya pemerasan tersebut.
"Saya juga pernah dapat telepon dari orang yang ngaku disuruh dari partai X dan mengaku wakil dari partai X, minta Rp 50 juta sebagai uang awal biar bapak didukung. Saya tolak! Saya konfirmasi ke tokoh-tokohnya, nggak benar itu," kata dia.
(umi/nrl)











































