Deklarasi yang dibacakan Letjen Marinir Pur Suharto itu dilakukan di Gedung Nusantara V DPR/MPR Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Kamis (21/2/2008).
Penanganan korban Lapindo seharusnya menjadi persoalan yang harus diselesaikan terlebih dulu, termasuk di dalamnya persoalan relokasi korban yang harus diselesaikan. "Ada yang salah dalam mengurus persoalan lumpur Lapindo ini. Ada apa ini, berbagai solusi ditawarkan tapi tidak dilaksanakan," katanya Gus Sholah dalam sambutannya.
Hal yang sama juga diungkapkan Syafi'i Ma'arif. Menurutnya, bencana yang menimpa rakyat Sidoarjo itu harus segera diselesaikan. Bencana yang diakibatkan manusia ini bisa ditutup. "Karena itu perlu ada usaha dan kerja keras mengatasi hal ini," ujarnya.
Dia menepis apa yang dilakukannya merupakan manuver politik. "Ini bukan manuver politik tapi ingin menyelamatkan bangsa agar tidak jadi museum," katanya
Sedangkan pembaca deklarasi, Suharto menegaskan, tragedi Lapindo bukti cerminan bobroknya pengelolaan negara dan elit politik.
Karena itu dia mengajak kepada elemen bangsa melawan konspirasi yang dengan sadar dan penuh tipu daya menyengsarakan rakyat. "Kami bertekad dengan daya upaya untuk menutup sumur Lapindo itu," tegasnya.
Acara deklarasi itu bersamaan dengan peluncuran buku Membunuh Sumur Lapindo. Deklarasi diakhiri dengan menyanyikan lagu Franky S dengan judul Aku Mau Presiden Baru. (mar/nrl)











































