Gadis manis asal Medan, Sumatera Utara, ini langsung sempoyongan begitu dikibasi selembar uang seribu rupiah oleh sopir angkot T 16 jurusan Jambore-Cililitan, Jakarta Timur.
Saksi mata Anzik Riyadi kepada detikcom, Kamis (21/2/2008), menuturkan, kondisi Sherly pukul 21.30 WIB, Rabu 20 Februari 2008 sangat mengenaskan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Peristiwa naas yang menimpa Sherly berawal saat dia menghentikan sebuah angkot T 16 di pertigaan Munjul-Bukit Permai, Cibubur, Jakarta Timur pukul 17.30 WIB, Rabu.
Saat itu dia baru saja dari rumah kakaknya di kawasan Munjul dan hendak kembali ke tempat kerjanya di Cikarang, Bekasi.
Wanita berambut lurus sebahu itu kemudian duduk di bangku penumpang bagian belakang. Namun di tengah perjalanan saat penumpang tinggal dia sendiri, sopir berlogat Jawa Barat setengah memaksa memintanya pindah duduk di kursi penumpang bagian depan.
Alasan si sopir, kursi belakang akan dipakai rombongan penumpang lain. Tanpa berpikir jelek, wanita yang baru dua tahun hijrah ke Jakarta itu menuruti permintaan sopir angkot tersebut.
Namun begitu duduk di kursi depan, si sopir langsung mengibaskan dan menyekakan selembar uang Rp 1.000 ke hidung Sherly. Saat itu dia merasakan kesadarannya mulai berkurang. Ulah di sopir tak berhenti di situ, wanita yang tingginya sekitar 160 cm itu dipaksa menelan sebuah pil.
Begitu pil ditelan, Sherly makin sempoyongan. Dalam kondisi setengah sadar, wanita berkulit kuning langsat itu merasakan tubuhnya digerayangi si sopir. Bahkan restleting celana jins Sherly sudah sempat dibuka. Dia juga merasa dibawa berkeliling ke tempat-tempat sepi.
"Sepertinya saya akan diperkosa, saya teriak saya bukan wanita begituan," tutur Sherly seperti yang ditirukan Anzik.
Gagal memperkosa Sherly karena perlawanannya yang gigih, si sopir kemudian mempreteli harta benda yang dibawa Sherly. Setelah itu, dia kemudian menurunkan wanita tersebut di Jalan Raya Bogor, tepatnya di depan pabrik PT Khong Guan.
Dari situ dibantu Satpam, Sherly naik Mikrolet M06 dan turun di perempatan Pasar Rebo. Sherly kemudian tertatih-tatih menuju wartel di sekitar situ untuk menelepon kakaknya, Rudy.
Sherly mengaku sempat melaporkan peristiwa yang dialaminya kepada polisi yang sedang patroli di kawasan itu. Namun laporannya tidak ditanggapi. Sherly ditinggalkan begitu saja di wartel tersebut.
"Saat itu dia kelihatan trauma, lihat laki-laki takut. Dia hanya bersedia bercerita pada seorang ibu yang juga berasal dari Medan," kata Anzik.
"Dia kayaknya ketakutan karena si sopir mengancam tidak boleh lapor," imbuh Anzik.
Saat detikcom menghubungi HP Rudy, kakak Sherly, untuk meminta konfirmasi, HP tersebut tidak aktif.
(umi/nrl)











































