Jamal buron sejak September tahun 2006 silam. Jamal dahulu kabur setelah menjebol plafon sel Polsek Pademangan. Dalam pelariannya, Jamal berganti-ganti alamat, berpura-pura menjadi pedagang pasar dan sembunyi di keramaian.
Nah...sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan jatuh juga. Kiasan ini pas menggambarkan 'pengembaraan' Jamal. Setelah 2 tahun ngumpet, jejak Jamal tercium kepolisian. Aparat kepolisian bergerak dan menggerebeknya setelah mengantongi informasi dari masyarakat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melihat mangsa di depan mata, aparat kepolisian berusaha menangkapnya. Motor Jamal pun dipepet polisi. Namun Jamal nekat melawan dan motornya terus melaju.
Polisi kemudian menendang pinggir motor, Jamal pun jatuh tersungkur. Ternyata, Jamal pantang menyerah menghadapi 4 aparat kepolisian bersenjata lengkap.
Jamal mengambil sebilah pisau yang terselip di balik baju. Bak pesilat Jamal terus melawan polisi dengan terus mengacung-acungkan pisau.
"Awalnya TO (target operasi) diam saja. Tapi tiba-tiba melawan petugas," kata Kapolsek Pademangan, Jakarta Utara, Kompol Widjanarko saat dikonfirmasi wartawan.
Tidak mau ambil resiko, polisi memberi tembakan peringatan untuk melumpuhkan Jamal. Dorrr...!
Jamal lagi-lagi tidak kapok dan terus mencoba kabur meski kakinya tertembak bersimbah darah. "Ujungnya, kami ambil tindakan tegas. Ditembak kena punggung dan meninggal," ujar Widjanarko. (Ari/aan)











































