"Umumnya pedagang itu dagangannya tidak laris, jadi pada ninggalin dagangan mereka," kata Ketua Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) Hasan Basri di Balaikota DKI Jakarta, Jl Medan Merdeka Selatan,
Rabu (20/2/2008).
Dia menjelaskan, dari 151 pasar yang terdata pada 2005, terdapat 8 pasar tradisional di Jakarta yang tidak berfungsi lagi. Pasar tersebut antara lain Pasar Blora, Pasar Cipinang Baru, Pasar Kramat Jaya, Pasar Cilincing, Pasar Muncang, Pasar Prumpung Tengah, Pasar Sinar Utara, dan Pasar Karet Padurenan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pasar-pasar yang tingkat huniannya makin melorot adalah Pasar Kebon Jati, Pasar Mampang, Pasar Serdang, dan Pasar Grogol. Anjloknya tingkat hunian itu akibat adanya persaingan barang impor yang banyak dijual di pasar modern.
Selain itu di Pasar Tanah Abang, Cipulir, dan Jatinegara, sebanyak 60 persen produk yang dijual dikuasai barang impor.
"Ini kebijakan yang tidak pas dalam Perpres No 1112/2007 tentang Pembinaan Pasar Tradisional, Pasar Modern, dan Toko Modern. Perpres itu bagi kita justru melegitimasi keberadaan pasar modern, kita cuma mengacu berdasar peraturan yang ada," urainya.
Sementara Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo saat ditanya mengenai lebih banyaknya pasar modern yang mendominasi pasar-pasar di Jakarta mengelak akibat kebijakan yang dibuatnya. (ndr/umi)











































