Militer Filipina menangkap Salman di rumah seseorang bernama Indarat Generoso yang berlokasi di Desa Piso, Col, Filipina. Demikian dilansir dari Philippine Daily Inquirer, Rabu (20/2/2008).
Polisi setempat, Inspektur De Quincio Pante mengatakan, saat penangkapan, ditemukan pula beberapa senjata api, petunjuk dan bahan pembuatan bom seperti detonator dan bahan peledak lain.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jejak Salman terendus saat pihak berwenang menerima kabar tentang keberadannya. "Berdasar laporan dari warga sekitar, orang Indonesia itu datang ke daerah tersebut dua atau tiga kali," bebernya.
Menurutnya juru bicara Divisi Infanteri yang bermarkas di Davao City, Benito de Leon, Salman adalah anggota jaringan teroris yang diduga terlibat dalam beberapa serangan teror, termasuk bom Bali 2002 yang menewaskan lebih dari 200 orang.
De Leon mengatakan, pemilik rumah tempat Salman ditangkap yakni Indarat dan anaknya yang bernama Mohar juga ditangkap karena kepemilikan senjata api dan bahan peledak tanpa izin.
Sementara itu, keluarga Indarat menyangkal telah menyembunyikan teroris. Mereka mengatakan, Salman hanya menginap pada Sabtu 16 Februari 2008 malam.
"Hanya sekali kami mendengar tentangnya (Salman). Kami tidak tahu latar belakangnya kecuali kalau dia itu pernah jadi teman sekolah Mohar," kata Mohtader, adik Mohar.
Dia menambahkan, Salman datang pukul 10.00 malam waktu setempat pada Sabtu 16 Februari 2008 untuk menginap. Dia mengatakan, saat itu adalah pertama kalinya keluarga mereka bertemu Salman. Bahkan mereka tidak pernah berbicara dengan Salman.
Terkait penangkapan Indarat dan Mohar, pihak keluarga merasa tindakan yang dilakukan tentara tidak mengedepankan HAM. Mereka dibawa dari rumah dengan kendaraan berbeda. Saat itu, kedua tangannya diikat. Karena itu, pihak keluarga berencana mengadu ke Komisi HAM.
(nvt/nrl)











































