Untuk kebutuhan makan dan minum para awak truk ini mengandalkan pedagang asongan yang lewat di sepanjang jalan. Sedangkan untuk buang air, tak ada tempat lain kecuali di sawah-sawah sepanjang kiri kanan jalan. Selama empat hari, mereka tak pernah mandi atau sekadar ganti baju. Kondisi ini membuat para awak truk mulai dilanda stres.
Salah seorang sopir Subari mengaku terpaksa nekat menempuh jalur pantura dengan resiko waktu perjalanan molor berhari-hari. "Uang jalan dari perusahaan sudah di pas Rp 1,5 juta untuk sekali jalan," akunya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pengakuan sama diungkapkan sejumlah sopir lain. Sebagian sopir bahkan ada yang sudah kehabisan bekal. seperti yang dialami sopir Riyanto. Dari Jakarta dia yang mengangkut semen mendapat sudah jatah bahan bakar 325 liter dan uang perjalanan Rp 500 ribu. Sudah tiga hari ini dia terjebak macet. Kini, bekal uang yang dipegangnya tinggal Rp 100 ribu. "Untungnya bensin masih mencukupi sampai Surabaya," kata dia.
Meski dilanda kejenuhan, para awak sopir tak kuatir kondisi muatan karena sebagian besar membawa muatan barang yang tak berisiko kadaluwarsa, seperti semen, gula, besi, dan barang kelontong.
Hingga hari ini kemacetan akibat banjir di jalur Pati-Juwana sepanjang 20 km telah memasuki hari keenam. Genangan air terdapat di beberapa titik. Belum ada tanda-tanda genangan akan menyurut, sebaliknya di beberapa titik seperti di jalan raya Desa Doropayung, genangan air malah meninggi hingga 0,5 meter. Praktis, tak ada kendaraan pribadi maupun motor yang dapat melintas. Kendaraan umum seperti bus dan minibus dari Juwana dan Pati sudah dialihkan ke jalur utara melewati Desa Wedarijaksa.
Kelumpuhan di jalur pantura Pati-Juwana dipastikan mengganggu distribusi barang antarwilayah. Diperkirakan pasokan barang ke wilayah Jawa Timur akan terganggu yang dapat berakibat kelangkaan barang.
(djo/djo)










































