Hal tersebut dikatakan Pangdam IX Udayana Mayjen TNI GR Situmeang di Markas Korem 163 Wirasatya, Jl Sudirman, Denpasar, Bali, Selasa (19/2/2008).
"Kita juga mencurigai bahan peledak itu dijual oleh anggota. Itu bukan hal yang tidak mungkin. Ada saja anggota yang nakal menjual amunisi. Tapi dalam kasus di Bali, belum ada fakta yang mengarah ke sana," kata Situmeang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Daya ledaknya terlalu rendah, jadi tidak bisa dikatakan granat full. Karakteristik granat TNI baik nanas maupun manggis, memiliki daya ledak yang cukup besar. Jika meledak akan membuat lubang sedalam 15 cm. Kalau yang di Jalan Kebo Iwa lubangnya lebih kecil, hanya 2 sampai 3 cm," ujar Situmeang.
Demikian pula dengan efek kerusakan yang terjadi pada sasaran. Dalam perisiwa peledakan di Jl Kebo Iwa tersebut, mobil Daihatsu Taft yang menjadi sasaran peledakan hanya mengalami kerusakan ringan.
"Yang rusak hanya dinding mobil, itu pun hanya beberapa lubang yang jebol. Kalau granat TNI dengan jarak 1 hingga 1,5 meter dari sasaran, mobil itu bisa terbakar. Mungkin saja itu granat bekas yang dirakit lagi, karena ledakannya tidak besar," tutur Situmeang. (gds/djo)










































