Kabut Asap, Warga Riau Diminta Kurangi Aktivitas di Luar Rumah

Kabut Asap, Warga Riau Diminta Kurangi Aktivitas di Luar Rumah

- detikNews
Senin, 18 Feb 2008 12:34 WIB
Pekanbaru - Kabut asap akibat kebakaran hutan dalam sepekan ini menyebabkan udara di Riau tercemar. Warga Riau pun diminta untuk mengurangi aktivitas di ruang terbuka.

Kepala Sub Dinas Pelayanan Kesehatan dan Gizi Dinas Kesehatan Provinsi Riau, Burhanudin Agung, dalam perbincangan dengan wartawan Senin, (18/2/2008) di Pekanbaru.

Himbauan ini sehubungan kondisi udara di sejumlah wilayah menunjukkan dalam kondisi sedang. Malah kondisi udara saat ini lebih cenderung mendekati tidak sehat. Kondisi udara saat ini sangat memungkinkan mudahnya masyarakat terserang penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kami minta warga untuk mengurangi aktivitas di ruang terbuka, terutama lagi penggendara sepeda motor. Di samping itu kita juga mengharapkan kepada masyarakat untuk sementara ini tidak membawa balita mereka keluar rumah. Sebab, kondisi udara saat ini sangat rentan menyerang kesehatan balita," kata Burhanudin.

Dengan kondisi udara yang diselimuti kabut asap ini, pihak Dinas Kesehatan Provinsi Riau juga sudah mengintruksikan seluruh Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskemas) untuk siaga.Β  "Kita sudah minta kepada seluruh Puskesmas di sejumlah kabupaten untuk tetap siaga dalam melayani kesehatan masyarakat selama musim kebakaran hutan ini," katanya.

Sementara itu kebakaran hutan saat ini melanda di sejumlah kabupaten dan kota. Kebakaran hutan paling luas saat ini, berada di Kota Dumai, terpaut 250 km arah utara dari Pekanbaru.

Wakil Walikota Dumai, Sunaryo kepada detikcom mengatakan, sedikitnya luas kebakaran hutan dan lahan dalam sepekan ini sudah lebih dari 1.500 hektar. Lahan yang terbakar saat ini sebagian besar merupakan kawasan hutan bergambut.

Kondisi itu membuat tim pemadam kebakaran Pemkot Dumai dibantu TNI dan Polri sedikit mengalami kesulitan dalam upaya penanggulangan kebakaran ini. Hal itu dimungkinkan karena kobaran api menyebar di bawah permukaan tanah.

"Upaya pemadaman ini selain dengan menggunakan mesin pompa air, kita juga menggunakan dua heli untuk melakukan pemadaman dari udara dengan sistem bom air. Hasilnya, beberapa kawasan kini apinya sudah mulai padam," kata Sunaryo. (cha/djo)


Berita Terkait