Demikian disampaikan Kapolda Bali Irjen Pol Paulus Purwoko usai rapat koordinasi gangguan keamanan di Markas Polda Bali, Jl WR Supratman, Denpasar, Bali, Senin (19/2/2007).
"Penjualan melalui proses penyelundupan dari Jatim ke Sumbawa, jadi bisa saja mampir ke Bali. Harga bahan peledak itu sekitar Rp 5 juta hingga Rp 6 juta," ungkap Purwoko.
Danrem 163 Wirasatya Kolonel Inf Dedi Kusnadi yang juga hadir dalam rapat koordinasi tersebut membenarkan sinyalemen itu. Terkait hal itu, sambung Dedi, aparat TNI dan Polri akan terus menggelar razia gabungan di tempat-tempat strategis, seperti pelabuhan.
"Bisa dipastikan bahan peladak yang digunakan tidak berasal dari Bali. Karena kita terus melakukan pemeriksaan dari waktu ke waktu," tutur Dedi.
Beberapa waktu terakhir, teror bom kembali marak di wilayah yang dikenal dengan julukan Pulau Dewata tersebut. Pada Selasa 5 Februari, sebuah ledakan terjadi di gudang milik pengusaha rental mobil Ida Bagus Dirga Jl Gatot Subroto, Denpasar.
Selanjutnya pada Jumat 15 Februari malam, sebuah granat meledak di Jl Kebo Iwa, Denpasar. Dan terakhir, Minggu 17 Februari, sebuah benda menyerupai bom rakitan ditemukan di dekat restoran Kak Man, Jl Teuku Umar, Denpasar. Polisi masih terus menyelidiki berbagai peristiwa tersebut. (gds/djo)











































