"Dengan segala hormat, saya meminta dukungan seluruh negara di dunia dan membangun hubungan diplomatik dengan negara kami," Presiden Kosovo Fatmir Sejdiu seperti dikutp AFP, Senin (18/1/2007).
Sejdiu juga memahami dan menghargai warga Kosovo yang berasal dari etnis Serbia, yang jumlahnya sekitar 10 persen dari 2 juta penduduk.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejdiu pun mengajak warga etnis non Albania yang tinggal di Kosovo untuk bersatu dalam perbedaan membangun negara yang baru itu. Kemerdekaan Kosovo ini sekaligus meresmikan asas negara yang sekuler dan republik yang multi etnis dengan bersandar pada prinsip non diskriminasi.
Wilayah Kosovo ini seperti diketahui menjadi ajang agresi tentara Serbia di bawah pimpinan Slobodan Milosevic pada 1989-1999. Ratusan ribu warga Kosovo yang sebagian besar muslim meregang nyawa, dan hal ini berakhir setelah tentara NATO masuk ke wilayah itu.
Tak lama setelah pendeklarasian aksi berbau teror mulai terjadi. sebuah granat meledak di sebelah Timurlaut Kosovo di Kota Mitrovica, di mana di kota ini tinggal 40 ribu warga beretnis Serbia dan 80 ribu lainnya beretnis Albania.
Sedang di wilayah Serbia, deklarasi Kosovo mengundang aksi kekerasan. Ada pun yang menjadi target lemparan batu dan benda keras dari kaum muda Serbia adalah kedutaan besar negara barat yang mendukung proklamasi kemerdekaan itu.
Sebagian besar diantara mereka adalah para pendukung sepakbola. Dan aksi mereka umumnya ditujukan kepada hal yang berbau Amerika Serikat, seperti restoran McDonald's yang kacanya hancur terkena lemparan.
Slogan anti Amerika pun diteriakan para demonstran, sambil mengibarkan bendera Serbia. "Kami tidak akan berhenti hingga Kosovo kembali kepada Serbia," teriak seorang demonstran.
Sambil mabuk, demostran pun bergerak menuju kedutaan besar negara Eropa. Kali ini yang mendapat kerusakan paling parah adalah Kedubes Slovenia dan perwakilan Uni Eropa, dengan kaca dan pintu yang rusak terkena batu.
Situasi tegang pun terjadi di wilayah perbatasan sebelah selatan, ratusan mantan tentara Serbia dengan mengenakan seragam hendak memasuki Kosovo. Namun aksi mereka segera tertahan oleh polisi perbatasan.
Sementara itu Dewan Keamanan PBB segera menggelar sidang darurat, untuk melakukan kosultasi setelah salah satu anggota tetapnya Rusia menolak kemerdekaan Kosovo. (ndr/)











































