Pasalnya perayaan Hari Valentine itu tidak sesuai dengan nilai-nilai agama Yahudi, demikian National Conference of Synagogue Youth (NCSY) dalam situs webnya yang dikunjungi detikcom hari ini, Jumat (15/2/2008).
Disebutkan bahwa Hari Valentine itu tak terpisahkan dengan materialisme, pamer dan jor-joran konsumsi (konsumerisme). Terkadang itu dilakukan hanya karena tekanan sosial untuk melakukannya alias ikut-ikutan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak jarang harga diri seseorang juga ditentukan dari sudah atau belum punya pacar pada hari itu. Tak percaya? Tanyakan pada wanita yang tidak punya pacar, demikian NCSY.
Menurut NCSY, umat Yahudi sudah punya hari-hari tertentu sendiri untuk dirayakan. Perayaannya memang bisa membutuhkan biaya banyak, namun nilai-nilai tzedaka (bersedekah) selalu dikedepankan. Hari Rosh Hashana dan Yom Kippur juga dirayakan dengan teshuvah, tefillah dan tzedaka (bertobat untuk perilaku di masa lalu, berdoa dan bersedekah).
Selain itu masih ada Hari Purim, pesta makanan. Dirayakan dengan memberikan shalach manos dan matanos l'evyonim (hadiah makanan kepada sesama dan hadiah uang kepada fakir miskin).
Bahkan pada pesta Malam Seder perayaannya diawali dengan kalimat Ha lachma anya, yang artinya 'kami mengundang siapa saja yang membutuhkan tempat untuk tinggal untuk bersama-sama merayakan Malam Seder.'
"Bersedekah, yes! Inklusi, yes! Jor-joran konsumsi dan eksklusi? No!," tandas NCSY.
(es/es)











































